Wahai Saudaraku ....Kemana lagi engkau akan kembali selain kepada Alloh Swt

Wahai para pencari ketenangan sesungguhnya ketenangan sejati ketika engkau bisa mengenal Alloh...Wahai para pencari ke ridhoan sesungguhnya hanya dari kerihoan Alloh saja yang akan menyelamatkan...Wahai para pencari kesenangan sesungguhnya kesenangan sejati hanya dari Alloh saja kelak ...

Rabu, 28 Januari 2009

Kajian Kitab Al - Hikam Karya Syekh Ibnu Athaillah

KAJIAN 1 – 10 KITAB AL – HIKAM

Karya : Syekh Ibnu Athaillah

1. AMALAN LAHIR DAN AMALAN HATI

SEBAGIAN DARI TANDA BERSANDAR KEPADA AMALAN LAHIR ADALAH BERKURANGNYA HARAPAN (SUASANA HATI) TATKALA BERLAKU PADANYA SUATU KESALAHAN.

Imam Ibnu Athaillah memulai Kalimat Hikmah beliau dengan mengajak kita merenung kepada hakikat amal. Amal bisa dibagi menjadi dua jenis yaitu amalan lahir dan amalan hati atau suasana batin yang terkait dengan amalan lahir itu. Beberapa orang bisa jadi melakukan amalan lahir yang serupa tetapi suasana batin yang terkait dengan perbuatan lahir itu tidak serupa. Pengaruh amalan lahir kepada hati berbeda antara seorang dengan seorang yang lain. Jika amalan lahir itu mempengaruhi suasana hati, maka hati itu dikatakan bersandar kepada amalan lahir. Jika hati dipengaruhi juga oleh amalan hati, maka hati itu dikatakan bersandar juga kepada amal, sekalipun ia termasuk amalan batin.

Hati yang bebas dari bersandar kepada amal, baik amalan lahir ataupun amalan batin adalah hati yang menghadap kepada Allah dan meletakkan pergantungan kepada-Nya serta menyerah sepenuhnya kepada Allah tanpa sembarang takwil atau tuntutan. Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya, lahir dan batin, walau berapa banyak sekalipun, sebagai alat untuk tawar menawar dengan Allah untuk mendapatkan sesuatu. Amalan bukan menjadi penyebab perantaraan antara dirinya dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membataskan kekuasaan dan kemurahan Allah untuk tunduk kepada perbuatan manusia.

Allah Maha Berdiri Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi oleh siapapun dan sesuatu apapun. Apa saja tentang Allah adalah mutlak, tiada kekurangan, cacat dan pembatasan. Oleh karena itu, orang arif tidak menjadikan amalan sebagai sarana yang merongrong ketTuhanan Allah atau ‘memaksa’ Allah berbuat sesuatu menurut perbuatan makhluk.

Perbuatan Allah berada di depan dan perbuatan makhluk ada di belakang. Tidak pernah terjadi Allah mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu apapun. Sebelum menjadi seorang yang arif, hati manusia memang terkait rapat dengan amalan dirinya, baik yang lahir maupun yang batin. Manusia yang kuat bersandar kepada amalan lahir adalah mereka yang mencari manfaat keduniaan dan mereka yang kuat bersandar kepada amalan batin adalah yang mencari manfaat akhirat. Kedua jenis manusia tersebut percaya bahwa amalannya menentukan apa yang akan mereka peroleh baik di dunia dan juga di akhirat. Kepercayaan yang demikian kadang membuat manusia hilang atau kurang rasa bergantung nya kepada Allah.

Pergantungan mereka hanyalah kepada amalan semata, atau jikapun mereka bergantung kepada Allah, maka pergantungan itu bercampur dengan keraguan. Seorang manusia boleh memeriksa dirinya sendiri apakah kuat atau lemah pergantungannya kepada Allah. Kalimat Hikmah pertama yang dikeluarkan oleh Imam Ibnu Athaillah memberi petunjuk mengenainya.

Lihatlah kepada hati apabila kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika kesalahan yang demikian membuat kita berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah, itu tandanya pergantungan kita kepada-Nya sangat lemah. Firman-Nya:

“...Wahai anak-anakku, Pergilah dan carilah berita mengenai Yusuf dan saudaranya (Bunyamin), dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah melainkan kaum yang kafir ”. ( Ayat 87 : Surah Yusuf )

Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang beriman kepada Allah meletakkan pergantungan kepada-Nya walau dalam keadaan bagaimanapun. Pergantungan kepada Allah membuat hati tidak berputus asa dalam menghadapi cobaan hidup.

Kadang apa kita yang inginkan, kita rencanakan dan kita usahakan tidak mendatangkan hasil yang seperti diharapkan. Kegagalan mendapatkan sesuatu yang diinginkan bukan bermakna tidak menerima pemberian Allah. Selama orang itu beriman dan bergantung kepada Allah maka pasti Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya.

Kegagalan memperoleh apa yang diinginkan bukan bermakna tidak mendapat rahmat Allah. Segala hal yang Allah lakukan kepada orang yang beriman pasti didalamnya terdapat hikmah yang besar rahmat-Nya yang luas. Keyakinan terhadap yang demikian menjadikan orang yang beriman tabah menghadapi ujian hidup, tidak sekali-kali mereka berputus asa. Mereka yakin bahwa apabila mereka sandarkan segala perkara kepada Allah, maka apapun amal kebaikan yang mereka lakukan tidak akan menjadi sia-sia.

Orang yang tidak beriman kepada Allah berada dalam situasi yang berbeda. Pergantungan mereka hanya tertuju kepada amalan mereka, yang terkandung di dalamnya ilmu dan usaha. Apabila mereka mengadakan sesuatu usaha berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki, mereka mengharapkan akan mendapatkan hasil yang setimpal. Jika ilmu dan usaha (termasuklah pertolongan orang lain) gagal mendatangkan hasil, mereka tidak mempunyai tempat bersandar lagi. Jadilah mereka orang yang berputus asa. Mereka tidak mampu melihat hikmah kebijaksanaan Allah yang telah mengatur perjalanan takdir dan mereka juga tidak mampu merasakan rahmat dan karunia-Nya.

Jika orang kafir tidak bersandar kepada Allah dan mudah berputus asa, di kalangan sebagian orang Islam pun ada yang berperilaku demikian, bergantung setingkat demikian menyerupai sifat orang kafir. Orang yang seperti ini melakukan amalan karena kepentingan diri sendiri, bukan karena Allah. Orang ini mungkin mengharapkan dengan amalannya itu dia dapat mengecap kemakmuran hidup di dunia. Dia mengharapkan semoga amal kebajikan yang dilakukannya dapat mengeluarkan hasil dalam bentuk bertambah rezekinya, kedudukannya atau pangkatnya, orang lain semakin menghormatinya dan dia juga dihindarkan daripada bala penyakit, kemiskinan dan sebagainya. Bertambah banyak amal kebaikan yang dilakukannya bertambah besarlah harapan dan keyakinannya tentang kesejahteraan hidupnya.

Sebagian kaum muslimin yang lain mengaitkan amal kebaikan dengan kemuliaan hidup di akhirat. Mereka memandang amal salih sebagai tiket untuk memasuki surga, sekaligus dapat dijauhkan dari azab api neraka.

Rohani orang yang bersandar kepada amal sangat lemah, terutama mereka yang mencari keuntungan dunia dengan amal mereka. Mereka tidak akan tahan menempuh ujian. Mereka mengharapkan perjalanan hidupnya sentiasa mudah dan segala-segalanya berjalan menurut apa yang mereka rencanakan. Apabila terjadi sesuatu di luar perkiraan, mereka menjadi panik dan gelisah. Bala bencana membuat mereka merasakan bahwa merekalah manusia yang paling malang di atas muka bumi ini. Namun sebaliknya, bila mereka sukses memperoleh sesuatu kebaikan, mereka merasakan kesuksesan itu disebabkan kepandaian dan kemampuan mereka sendiri. Mereka mudah menjadi egois serta suka menyombongkan diri.

Apabila rohani seseorang bertambah teguh, dia melihat amal itu sebagai jalan untuknya mendekatkan diri kepada Allah, hatinya tidak akan lagi cenderung kepada manfaat duniawi dan ukhrawi tetapi dia berharap untuk mendapatkan karunia Allah seperti terbukanya hijab-hijab yang menutupi hatinya. Orang-orang ini merasakan amal-amalnya membawa mereka kepada Allah. Bila dia tertinggal melakukan sesuatu amal yang biasa dilakukannya atau bila dia tergelincir melakukan kesalahan maka dia merasa dijauhi oleh Allah. Inilah orang yang pada peringkat permulaan mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan tarekat tasawuf.

Jadi, ada golongan yang bersandar kepada amal semata-mata dan ada pula golongan yang bersandar kepada Allah melalui amal. Kedua golongan tersebut berpegang kepada pengaruh amal dalam mendapatkan sesuatu. Golongan pertama kuat berpegang kepada amal lahir, yaitu perbuatan lahir yang dinamakan usaha atau ikhtiar. Jika mereka salah memilih ikhtiar, hilanglah harapan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Ahli tarekat yang masih berada pada tingkat permulaan juga bersandar kuat kepada amalan batin seperti shalat dan zikir. Jika mereka tertinggal melakukan sesuatu amalan yang biasa mereka lakukan, akan berkuranglah harapan mereka untuk mendapatkan anugerah dari Allah. Sekiranya mereka tergelincir melakukan dosa, maka putuslah harapan mereka untuk mendapatkan anugerah Allah.

Dalam perkara bersandar kepada amal ini, termasuk juga bersandar kepada ilmu, baik ilmu lahir atau ilmu batin. Ilmu lahir adalah ilmu penguasaan dan pengurusan sesuatu perkara menurut kekuatan akal. Ilmu batin adalah ilmu yang menggunakan kekuatan batin dalam memperoleh sesuatu yang diinginkan.

Kebanyakan orang meletakkan kesuksesan kepada ayat dan usaha, hingga mereka lupa kepada Allah yang meletakkan takdir atas segala sesuatu.

Seterusnya, sekiranya Allah izinkan, rohani seseorang meningkat kepada kedudukan yang lebih tinggi. Nyata di dalam hatinya maksud kalimat:


Tiada daya dan upaya kecuali bersama Allah.

“Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu” ( Ayat 96 : Surah as- Saaffaat )

Orang-orang yang maqom atau kedudukan rohaninya berada pada tingkat ini tidak lagi melihat kepada amalnya, walaupun banyak amal yang dilakukannya tetapi hatinya tetap melihat bahwa semua amalan tersebut hakekatnya adalah karunia Allah semata. Jika tidak karena taufik dan hidayah dari Allah tentu tidak ada amal kebaikan yang dapat dilakukannya. Allah berfirman:

“Ini adalah keutamaan dari Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku akan bersyukur atau aku akan ingkar. Dan sungguh barang siapa yang bersyukur maka syukurnya itu hanyalah berpulang kepada dirinya sendiri, dan barang siapa yang ingkar (maka tidaklah menjadi masalah bagi Allah), karena sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, lagi Maha Pemurah”. ( Ayat 40 : Surah an-Naml )

Dan tiadalah kamu berkeinginan (melakukan sesuatu perkara) melainkan dengan cara yang dikehendaki Allah; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Ia memasukkan siapa saja yang dikehendaki-Nya (menurut aturan yang ditetapkan) ke dalam rahmat-Nya (dengan menempatkannya di surga); dan bagi orang-orang yang zalim, Ia telah menyediakan untuk mereka azab yang pedih. ( Ayat 30 & 31 : Surah al-Insaan )

Segala-galanya adalah pemberian Allah dan menjadi milik-Nya. Orang ini melihat kepada takdir yang Allah tentukan, tidak terlihat olehnya pengaruh perbuatan makhluk termasuk perbuatan dirinya sendiri. Maqam atau kedudukan ini dinamakan maqom ariffin yaitu orang-orang yang mengenal Allah. Golongan ini tidak lagi bersandar kepada amal tetapi justru merekalah yang paling kuat mengerjakan amal ibadah.

Orang yang masuk ke dalam lautan takdir, ridha dengan segala yang ditentukan Allah, akan sentiasa tenang, tidak berdukacita apabila terjadi kehilangan atau ketiadaan sesuatu. Mereka tidak melihat makhluk sebagai penyebab atau pemberi pengaruh.

Di awal perjalanan menuju Allah, seseorang akan kuat beramal menurut tuntutan syariat. Dia melihat amalan itu sebagai kendaraan yang membawanya menghampiri Allah. Semakin kuat dia beramal semakin besarlah harapannya untuk sukses dalam perjalanannya. Apabila dia mencapai satu tahap, pandangan mata hatinya terhadap amal mulai berubah. Dia tidak lagi melihat amalan sebagai alat atau penyebab. Pandangannya beralih kepada karunia Allah. Dia melihat semua amalannya adalah karunia Allah semata kepadanya dan kedekatannya dengan Allah juga karunia-Nya. Seterusnya terbukalah hijab yang menutupi dirinya dan dia mengenali dirinya dan mengenali Tuhannya. Dia melihat dirinya sangat lemah, hina, jahil, serba kekurangan dan faqir. Allah adalah Maha Kaya, Berkuasa, Mulia, Bijaksana dan Sempurna dalam segala segi.

Bila dia sudah mengenali dirinya dan Tuhannya, pandangan mata hatinya tertuju kepada Qudrat dan Iradat Allah yang melingkupi segala sesuatu yang ada dalam alam raya ini. Jadilah dia seorang arif yang sentiasa memandang kepada Allah, berserah diri kepada-Nya, bergantung dan berhajat kepada-Nya. Dia hanyalah hamba Allah yang sangat faqir (lemah dan butuh).

2. AHLI ASBAB DAN AHLI TAJRID

KEINGINANMU UNTUK BERTAJRID PADAHAL ALLAH MASIH MELETAKANMU DALAM SUASANA ASBAB ADALAH SYAHWAT YANG SAMAR, SEBALIKNYA KEINGINANMU UNTUK BERASBAB PADAHAL ALLAH TELAH MELETAKANMU DALAM SUASANA TAJRID BERARTI TURUN DARI SEMANGAT DAN TINGKAT YANG TINGGI.

Kalimat Hikmah 1 menerangkan tanda orang yang bersandar kepada amal. Bergantung kepada amal adalah sifat manusia biasa yang hidup dalam dunia ini. Dunia ini dinamakan alam asbab. Apabila perjalanan hidup keduniaan dipandang melalui mata ilmu atau mata akal akan dapat disaksikan kerapian susunan sistem sebab musabab yang mempengaruhi segala kejadian. Tiap sesuatu berlaku menurut hukum sebab-akibat.

Hubungan sebab dengan akibat sangat erat. Mata akal melihat dengan jelas pengaruh sebab dalam menentukan akibat. Kerapian sistem sebab musabab ini membolehkan manusia mengambil manfaat unsur-unsur dan kejadian alam. Manusia dapat menentukan unsur-unsur yang bisa merusak kesehatan lalu menjauhkannya dan manusia juga dapat menentukan unsur-unsur dapat menjadi obat lalu menggunakannya.

Dengan memahami hubungan sebab-akibat ini manusia bisa membuat ramalan cuaca, pasang surut air laut, angin, ombak, letusan gunung berapi, menghitung dengan tepat keuntungan dan kerugian usaha dan lain-lain sebagainya. Hal demikian disebabkan karena sistem yang mengawal perjalanan unsur-unsur yang berada di alam ini berada dalam suasana yang sangat rapi dan sempurna, membentuk hubungan sebab dan akibat yang padu dan serasi.

Allah Yang Maha Mengatur mengadakan sistem sebab musabab yang rapi adalah untuk kemudahan manusia menyusun kehidupan mereka di dunia ini. Kekuatan akal dan pancaindera manusia mampu menguasai kehidupan yang dikaitkan dengan perjalanan sebab musabab. Hasil dari perhatian dan kajian akal itu lahirlah berbagai jenis ilmu tentang alam dan kehidupan, seperti ilmu sains, astronomi, kedokteran, teknologi pangan, akuntansi dan sebagainya. Semua jenis ilmu itu dibentuk berdasarkan perjalanan hukum sebab-akibat.


Kerapian sistem sebab musabab menyebabkan manusia terikat kuat dengan hukum sebab-akibat. Manusia bergantung kepada amal (sebab) dalam mendapatkan hasil (akibat). Manusia yang melihat kepada pengaruh sebab dalam menentukan akibat serta bersandar dengannya dinamakan ahli asbab.

Sistem sebab musabab atau perjalanan hukum sebab-akibat sering membuat manusia lupa kepada kekuasaan Allah. Mereka melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan bahwa akibat terlahir karena adanya penyebab, seolah-olah Allah tidak ikut campur dalam urusan mereka.

Allah tidak suka hamba-Nya ‘mempertuhankan’ sesuatu kekuatan sehingga mereka lupa kepada kekuasaan-Nya. Allah tidak suka jika hamba-Nya sampai kepada tahap mempersekutukan diri-Nya dan kekuasaan-Nya dengan unsur-unsur alam dan hukum sebab-akibat ciptaan-Nya. Dialah yang meletakkan pengaruh kepada unsur-unsur alam itu dan Dia berkuasa pula membuat unsur-unsur alam itu lemah seperti semula. Dia yang meletakkan kerapian pada hukum sebab-akibat, berkuasa pula merombak hukum tersebut. Dia mengutuskan rasul-rasul dan nabi-nabi membawa mukjizat yang merombak hukum sebab-akibat untuk mengembalikan pandangan manusia kepada-Nya, agar keyakinan sebab musabab tidak menghijab keTuhanan-Nya. Kelahiran Nabi Isa a.s, terbelahnya laut dipukul oleh tongkat Nabi Musa a.s, kehilangan kuasa membakar yang ada pada api tatkala Nabi Ibrahim a.s masuk ke dalamnya, keluarnya air yang jernih dari jari-jari Nabi Muhammad s.a.w dan banyak lagi yang didatangkan oleh Allah, merombak pengaruh hukum sebab-akibat untuk menyadarkan manusia tentang hakikat bahwa kekuasaan Allah yang melingkupi perjalanan alam raya dan hukum sebab-akibat. Alam dan hukum yang ada padanya seharusnya membuat manusia mengenal Allah, bukan menutup pandangan terhadap Allah..

Sebagian manusia diselamatkan Allah daripada keyakinan sebab musabab ini. Namun, sebagai manusia yang hidup dalam dunia mereka masih bergerak dalam arus sebab musabab, hanya saja mereka tidak meletakkan keyakinan dirinya pada hukum sebab-akibat. Mereka sentiasa melihat kekuasaan Allah yang menetapkan atau mencabut pengaruh pada sesuatu hukum sebab-akibat. Jika sesuatu sebab tepat mengeluarkan akibat menurut yang biasa terjadi, mereka melihatnya sebagai kekuasaan Allah yang menetapkan kekuatan kepada sebab tersebut dan Allah juga yang mengeluarkan akibatnya. Allah berfirman:

Segala yang ada di langit dan di bumi tetap mengucap tasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Dialah yang menguasai dan memiliki langit dan bumi; Ia menghidupkan dan mematikan; dan Ia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. ( Ayat 1 & 2 : Surah al-Hadiid )

Maka Kami (Allah) berfirman: “Pukullah si mati dengan sebagian anggota lembu yang kamu sembelih itu”. (Mereka pun memukulnya dan ia kembali hidup). Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda kekuasaan-Nya, supaya kamu memahaminya. ( Ayat 73 : Surah al-Baqarah )

Orang yang melihat kepada kekuasaan Allah mengamati hukum sebab-akibat tetapi tidak meletakkan perhatian mereka kepada hukum tersebut. Orang yang pergantungannya bulat kepada Allah, tidak kepada amal yang menjadi penyebab disebut ahli tajrid.

Ahli tajrid, seperti juga ahli asbab, melakukan sesuatu menurut peraturan sebab-akibat. Ahli tajrid juga makan dan minum. Ahli tajrid memanaskan badan dan memasak dengan menggunakan api juga. Ahli tajrid juga melakukan sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan rezekinya. Tidak ada perbedaan di antara amal ahli tajrid dengan amal ahli asbab. Perbedaannya terletak di dalam diri yaitu dalam hati. Ahli asbab melihat kepada kekuatan hukum alam. Ahli tajrid melihat kepada kekuasaan Allah pada hukum alam itu. Walaupun ahli asbab mengakui kekuasaan Allah tetapi penghayatan dan kekuatannya pada hati tidak sekuat ahli tajrid.

Dalam melakukan kebaikan, ahli asbab perlu melakukan mujahadah (kerja keras). Mereka perlu memaksa diri mereka berbuat baik dan perlu menjaga kebaikan itu agar tidak menjadi rusak. Ahli asbab perlu memperingatkan dirinya supaya berbuat ikhlas dan perlu melindungi keikhlasannya agar tidak dirusakkan oleh riya’ (berbuat baik untuk diperlihatkan kepada orang lain agar dia dikatakan orang baik), takabur (sombong dan membesar-besarkan diri, merasakan diri sendiri lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat dan lebih cerdik daripada orang lain) dan sum’ah (menarik perhatian orang lain kepada kebaikan yang telah dibuatnya dengan cara bercerita mengenainya, agar orang mengakui bahwa dirinya adalah orang baik). Jadi, ahli asbab perlu memelihara kebaikan sebelum melakukannya dan juga selepas melakukannya.

Suasana hati ahli tajrid berbeda dari apa yang dialami oleh ahli asbab. Jika ahli asbab memperingatkan dirinya supaya ikhlas, ahli tajrid tidak melihat kepada ikhlas karena mereka tidak bersandar kepada amal kebaikan yang mereka lakukan. Apa saja kebaikan yang keluar dari mereka, mereka serahkan sepenuhnya kepada Allah yang mengaruniakan kebaikan tersebut. Ahli tajrid tidak perlu menentukan perbuatannya ikhlas atau tidak ikhlas. Melihat keihklasan pada perbuatan sama dengan melihat diri sendiri yang ikhlas. Apabila seseorang merasakan dirinya sudah ikhlas, sesungguhnya pada dirinya masih tersembunyi keegoan diri yang membawa kepada riya’, ujub (merasakan diri sendiri sudah baik) dan sum’ah. Apabila tangan kanan berbuat ikhlas dalam keadaan tangan kiri tidak menyadari perbuatan itu barulah tangan kanan itu benar-benar ikhlas. Orang yang ikhlas berbuat kebaikan dengan melupakan kebaikan itu. Ikhlas sama seperti harta benda. Jika seorang miskin diberi harta oleh jutawan, orang miskin itu pasti malu menepuk dada kepada jutawan tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya sudah kaya.

Orang tajrid yang diberi ikhlas oleh Allah mengembalikan kebaikan mereka kepada Allah. Jika harta orang miskin itu hak si jutawan tadi, ikhlas orang tajrid adalah hak Allah.

Jadi, orang asbab bergembira karena melakukan perbuatan dengan ikhlas, orang tajrid melihat pula bahwa Allah sajalah yang mengatur segala urusan. Ahli asbab dibawa kepada syukur, ahli tajrid berada dalam penyerahan.

Kebaikan yang dilakukan oleh ahli asbab merupakan sentuhan kasih sayang Allah agar mereka ingat kepada Allah yang memimpin mereka kepada kebaikan. Sedangkan kebaikan yang dilakukan oleh ahli tajrid merupakan karunia Allah kepada sekelompok manusia yang tidak memandang kepada diri mereka dan kepentingannya. Ahli asbab melihat kepada terwujudnya hukum sebab-akibat. Ahli tajrid melihat kepada terwujudnya kekuasaan dan ketentuan Allah.

Dari kalangan ahli tajrid, Allah memilih sebagiannya dan meletakkan kekuatan hukum pada mereka. Kelompok ini bukan sekedar tidak melihat kepada terwujudnya hukum sebab-akibat, malah mereka dikaruniai kekuatan menguasai hukum sebab-akibat itu. Mereka adalah nabi-nabi dan wali-wali pilihan. Nabi-nabi dianugerahkan mukjizat dan wali-wali dianugerahkan kekeramatan. Mukjizat dan kekeramatan merombak pengaruh hukum sebab-akibat.

Di dalam kumpulan wali-wali pilihan yang dikaruniai kekuatan menguasai hukum sebab-akibat itu terdapatlah orang-orang seperti Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Abu Hasan as-Sazili, Rabiatul Adawiah, Ibrahim Adham dan lain-lain. Cerita tentang kekeramatan mereka sering diperdengarkan. Orang yang cenderung kepada tarekat tasawuf gemar menjadikan kehidupan aulia Allah tersebut sebagai contoh, dan yang mudah memikat perhatian adalah bagian kekeramatan.

Kekeramatan biasanya dikaitkan dengan perilaku kehidupan yang zuhud (seperlunya terhadap keduniaan) dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah. Timbul anggapan bahwa jika mau memperoleh kekeramatan seperti mereka mestilah hidup sebagaimana mereka.

Orang yang berada pada peringkat permulaan bertarekat cenderung untuk memilih jalan bertajrid yaitu membuang segala ikhtiar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah. Sikap total bertajrid membuat seseorang meninggalkan pekerjaan, isteri, anak-anak, masyarakat dan dunia seluruhnya. Semua harta disedekahkan karena dia melihat Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq telah berbuat demikian. Ibrahim bin Adham telah meninggalkan takhta kerajaan, isteri, anak, rakyat dan negerinya lalu tinggal di dalam gua.

Biasanya orang yang bertindak demikian tidak dapat bertahan lama. Kesudahannya dia mungkin meninggalkan kelompok tarekatnya dan kembali kepada kehidupan duniawi. Ada juga yang kembali kepada kehidupan yang lebih buruk daripada keadaan sebelum bertarekat dahulu karena dia mau menebus kembali apa yang telah ditinggalkannya. Keadaan demikian diakibatkan bertajrid tanpa ilmu. Orang yang baru masuk ke dalam bidang latihan kerohanian sudah mau beramal seperti aulia Allah yang sudah berpuluh-puluh tahun melatih diri. Tindakan membuang semua yang dimilikinya secara tergesa-gesa membuatnya berhadapan dengan ujian dan cobaan yang boleh jadi menggoncangkan imannya dan mungkin juga membuatnya berputus-asa.

Apa yang harus dilakukan bukanlah meniru membabi buta kehidupan para aulia Allah yang telah mencapai maqom atau kedudukan yang tinggi. Seseorang haruslah melihat kepada dirinya dan mengenal dengan pasti kedudukannya, kemampuanya dan daya-tahannya. Ketika masih di dalam maqom asbab seseorang haruslah bertindak sesuai dengan hukum sebab-akibat. Dia harus bekerja untuk mendapatkan rezekinya dan harus pula berusaha menjauhkan dirinya daripada bahaya atau kehancuran.

Ahli asbab perlu berbuat demikian karena dia masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan. Dia masih melihat bahwa tindakan makhluk memberi pengaruh kepada dirinya. Oleh karena itu, adalah wajar sekiranya dia melakukan tindakan yang menurut pandangannya akan mendatangkan kesejahteraan kepada dirinya dan orang lain.

Tanda Allah meletakkan seseorang pada kedudukan sebagai ahli asbab ialah apabila urusannya dan tindakannya yang menurut kesesuaian hukum sebab-akibat tidak menyebabkan ia mengabaikan kewajiban terhadap tuntutan agama. Dia tetap merasa ringan untuk berbakti kepada Allah, tidak terlena dengan nikmat duniawi dan tidak memiliki rasa iri hati terhadap orang lain.

Apabila ahli asbab berjalan menurut hukum asbab maka jiwanya akan maju dan berkembang dengan baik tanpa menghadapi kegoncangan yang besar yang boleh jadi menyebabkan dia berputus asa dari rahmat Allah. Rohaninya akan menjadi kuat sedikit demi sedikit dan mendorongnya ke dalam maqom tajrid secara selamat. Akhirnya dia mampu untuk bertajrid sepenuhnya.

Ada pula orang yang dipaksa oleh takdir supaya bertajrid. Orang ini asalnya adalah ahli asbab yang berjalan menurut hukum sebab-akibat sebagaimana orang ramai. Kemungkinan kehidupan seperti itu tidak akan menambahkan kematangan rohaninya. Perubahan jalan perlu baginya supaya dia lebih maju dalam bidang kerohanian. Takdir bertindak memaksanya untuk terjun ke dalam lautan tajrid. Dia akan mengalami keadaan di mana hukum sebab-akibat tidak lagi membantunya untuk menyelesaikan masalahnya. Sekiranya dia seorang raja, takdir mencabut kerajaannya. Sekiranya dia seorang hartawan, takdir menghapuskan hartanya. Sekiranya dia seorang yang cantik, takdir menghilangkan kecantikannya itu. Takdir memisahkannya daripada apa yang dimiliki dan dikasihinya.

Pada peringkat permulaan menerima kedatangan takdir yang demikian, sebagai ahli asbab, dia berikhtiar menurut hukum sebab-akibat untuk mempertahankan apa yang dimiliki dan dikasihinya. Jika dia tidak berdaya menolong dirinya, dia akan meminta pertolongan orang lain. Setelah puas dia berikhtiar termasuk mohon bantuan orang lain tetapi tangan takdir tetap telah merengut sistem sebab-akibat yang terjadi pada dirinya. Apabila dia sendiri dengan dibantu oleh orang lain tidak mampu mengatasi arus takdir maka dia tidak ada pilihan kecuali berserah kepada takdir.

Dalam keadaan begitu dia akan lari kepada Allah dan merayu agar Allah menolongnya. Pada peringkat ini seseorang itu akan kuat beribadah dan menumpukan sepenuh hatinya kepada Allah. Dia benar-benar berharap Allah akan menolongnya mengembalikan apa yang pernah dimilikinya dan dikasihinya. Akan tetapi, pertolongan tidak juga sampai kepadanya sehingga dia benar-benar terpisah dari apa yang dimiliki dan dikasihinya itu. Luputlah harapannya untuk memperolehnya kembali. Ridhalah dia dengan perpisahan itu. Dia tidak lagi merayu kepada Allah sebaliknya dia menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Dia menyerah bulat-bulat kepada Allah, tidak ada lagi ikhtiar, pilihan dan kehendak diri sendiri. Jadilah dia seorang hamba Allah yang bertajrid. Apabila seseorang hamba benar-benar bertajrid maka Allah sendiri yang akan mengurus kehidupannya. Allah menggambarkan suasana tajrid dengan firman-Nya:

Dan (ingatlah) berapa banyak binatang yang tidak membawa rezekinya bersama, Allah jualah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kamu; dan Dialah jua Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. ( Ayat 60 : Surah al-‘Ankabut )

Makhluk Allah seperti burung, ikan, dan sebagainya tidak memiliki tempat simpanan makanan. Mereka adalah ahli tajrid yang dijamin rezekinya oleh Allah. Jaminan Allah itu meliputi juga bangsa manusia. Tanda Allah meletakkan seseorang hamba-Nya di dalam maqom tajrid ialah Allah memudahkan baginya rezeki yang datang dari arah yang tidak diduganya. Jiwanya tetap tenteram sekalipun terjadi kekurangan pada rezeki atau ketika menerima berbagai ujian.

Sekiranya ahli tajrid sengaja memindahkan dirinya kepada maqom asbab maka ini bermakna dia melepaskan jaminan Allah lalu bersandar kepada makhluk. Ini menunjukkan kejahilannya tentang rahmat dan kekuasaan Allah. Tindakan yang jahil itu bisa jadi menyebabkan berkurang atau hilang terus keberkahan yang Allah karuniakan kepadanya. Misalnya, seorang ahli tajrid yang tidak mempunyai sebarang pekerjaan kecuali membimbing orang ramai ke jalan Allah, walaupun tidak mempunyai sebarang pekerjaan, tetapi rezeki datang kepadanya dari berbagai arah dan tidak pernah putus tanpa dia meminta-minta atau mengharap-harap. Pengajaran yang disampaikan kepada murid-muridnya sangat berkesan sekali. Keberkahannya amat kentara seperti maqbulnya doa, dan ucapannya biasanya menjadi kenyataan. Andainya dia meninggalkan suasana bertajrid lalu berasbab karena tidak puas hati dengan rezeki yang diterimanya maka keberkahannya akan berkurang. Pengajarannya, doanya dan ucapannya tidak mempunyai pengaruh kuat seperti dahulu lagi. Ilham yang datang kepadanya tersekat-sekat dan kefasihan lidahnya tidak selancar biasa.

Seorang hamba haruslah menerima dan ridha dengan kedudukan yang Allah karuniakan kepadanya. Berserahlah kepada Allah dengan yakin bahawa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah Maha Mengetahui apa yang patut bagi setiap makhluk-Nya. Allah Maha Bijak mengatur urusan hamba-hamba-Nya.

Keinginan kepada pertukaran maqom merupakan tipu daya yang sangat halus. Di dalamnya tersembunyi rangsangan nafsu yang sukar disadari. Nafsu di sini termasuk kehendak, cita-cita dan angan-angan. Orang yang baru terbuka pintu hatinya setelah lama hidup di dalam kelalaian, akan mudah tergerak untuk meninggalkan suasana asbab dan masuk ke dalam suasana tajrid. Orang yang telah lama berada dalam suasana tajrid, apabila kesadaran dirinya kembali sepenuhnya, muncul lagi pada dirinya keinginan, cita-cita dan angan-angan. Nafsu mencoba untuk bangkit seperti semula menguasai dirinya.

Orang asbab perlu menyadari bahwa keinginannya untuk berpindah kepada maqom tajrid itu mungkin secara halus digerakkan oleh ego diri yang tertanam jauh dalam jiwanya. Orang tajrid juga perlu menyadari bahwa keinginannya untuk kembali ke suasana asbab mungkin didorong oleh nafsu rendah yang masih belum berpisah dari hatinya.

Ulama tasawuf mengatakan seseorang mungkin dapat mencapai semua maqom nafsu, tetapi nafsu peringkat pertama tidak kunjung padam. Oleh karena itu, perjuangan atau mujahadah mengawasi nafsu sentiasa berjalan.

Bersambung.....

Teks asli bisa diakses di sini : http://alhikam0.tripod.com/

3. KEKUATAN SEMANGAT, TEKAD, CITA-CITA, DAN IKHTIAR TIDAK AKAN SANGGUP MEMECAHKAN BENTENG TAKDIR

Kalimat Hikmah yang pertama menyentuh tentang hakikat amal yang membawa kepada pengertian tentang amal lahir dan amal batin. Ia mengajak kita memerhatikan amal batin (suasana hati) yang berhubungan dengan amal lahir yang kita lakukan. Sebagai manusia biasa, hati kita cenderung untuk menaruh harapan dan meletakkan pergantungan kepada hasil dari amalan lahir. Kalimat Hikmah kedua menjelaskan mengenai hal itu dengan membuka pandangan kita kepada suasana asbab dan tajrid. Bersandar kepada amal terjadi karena seseorang melihat kepada pengaruh sebab dalam melahirkan akibat. Apabila seseorang telah terlepas dari pengaruh sebab musabab barulah seseorang itu masuk kepada suasana tajrid.

Dua Kalimat Hikmah yang lalu telah memberi pendidikan yang halus kepada jiwa. Seseorang akan mendapat pemahaman bahwa bersandar kepada amal bukanlah jalannya. Pemahaman yang demikian akan melahirkan kecenderungan untuk menyerah bulat-bulat kepada Allah. Akan tetapi, sikap menyerah tanpa persiapan kerohanian yang baik bisa jadi malah menggoncangkan keimanannya. Agar orang yang sedang meninggi semangatnya tidak keliru memilih jalan, dia diberi pengertian mengenai kedudukan asbab dan tajrid. Pemahaman tentang maqom (kedudukan) asbab dan tajrid membuat seseorang mendidik jiwanya agar menyerah kepada Allah dengan cara yang betul dan selamat dan bukan berserah diri dengan cara yang salah.

Hikmat ke tiga ini mengajak kita merenung kepada kekuatan benteng takdir yang memagari segala sesuatu. Ketika kita berbicara tentang ahli tajrid, kita dapati ahli tajrid melihat kepada kekuasaan Allah yang meletakkan pengaruhnya terhadap suatu sebab dan menetapkannya dalam melahirkan akibat. Ini bermakna bahwa semua kejadian dan segala hukum mengenai sesuatu perkara berada di dalam penguasaan dan aturan Allah. Dialah yang menguasai, mengatur dan mengurus setiap makhluk-Nya. Urusan keTuhanan yang menguasai, mengatur dan mengurus atau suasana pentadbiran Allah itu dinamakan takdir. Tidak ada sesuatupun yang tidak dikuasai, diatur dan diurus oleh Allah. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu apapun yang tidak termasuk ke dalam takdir.

Manusia terhalang memandang takdir karena keyakinan yang keliru tentang hukum sebab-akibat. Keegoan seseorang menjadikan hukum sebab-akibat menghalangi pandangan hati melihat takdir. Keinginan, cita-cita, angan-angan, semangat, akal pikiran, dan juga usaha, menutupi hati daripada melihat kekuasaan, pengaturan dan pengurusan Allah.

Hijab (penghalang) keegoan itu jika disimpulkan terdiri dari dua hal, yaitu hijab nafsu dan hijab akal. Nafsu yang melahirkan keinginan, cita-cita, angan-angan dan semangat. Akal menjadi tentara nafsu, menimbang, merancang dan mengadakan usaha dalam mensukseskan apa yang dicetuskan oleh nafsu.

Jika nafsu inginkan sesuatu yang baik, akal bergerak kepada kebaikan itu. Jika nafsu inginkan sesuatu yang buruk, akal juga bergerak kepada keburukan itu. Dalam banyak perkara, akal justru tunduk kepada pengarahan nafsu, bukan menasehati nafsu. Oleh sebab itu, dalam usaha menundukkan hawa nafsu kita tidak boleh meminta pertolongan akal.

Dalam proses memperoleh penyerahan secara menyeluruh kepada Allah terlebih dahulu akal dan nafsu perlu ditundukkan kepada kekuatan takdir. Akal mesti mengakui kelemahannya dalam membuka ikatan takdir. Nafsu mesti menerima hakikat kelemahan akal dalam perkara tersebut dan ikut tunduk bersama-samanya. Bila nafsu dan akal sudah tunduk barulah hati boleh beriman dengan sebenarnya kepada takdir.

Beriman kepada takdir seharusnya melahirkan penyerahan secara berpengetahuan bukan bersandar pada kebodohan. Orang yang jahil tentang hukum dan perjalanan takdir tidak dapat berserah diri dengan sebenarnya kepada Allah sebab di balik kejahilannya itulah nafsu akan menggunakan akal untuk menimbulkan keraguan terhadap Allah. Rohani orang yang jahil tentang hakikat takdir itu masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan biasa. Dia masih melihat bahwa makhluk bisa mendatangkan pengaruh pada kehidupannya. Tindakan orang lain dan kejadian-kejadian yang dilaluinya sering membuat jiwanya kacau. Keadaan yang demikian menyebabkan dia tidak dapat bertahan untuk terus berserah diri kepada Allah. Sekiranya dia memahami tentang hukum dan peraturan Allah dalam perkara takdir tentu dia dapat bertahan dengan iman. Hadis menceritakan tentang takdir:

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a.w, “Wahai Rasulullah, apakah iman?” Jawab Rasulullah s.a.w, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian. Juga engkau beriman dengan Qadar baiknya, buruknya, manisnya dan pahitnya adalah dari Allah”. { Maksud Hadis }

Pandangan kita sering keliru memandang takdir yang berlaku. Kita dikelirukan oleh istilah-istilah yang biasa kita dengar. Kita cenderung merasakan seolah-olah Allah hanya menentukan yang dasarnya saja, sementara yang halus-halus ditentukan-Nya kemudian, yakni seolah-olah Dia Melihat dan Mengkaji perkara yang timbul barulah Dia membuat keputusan.

Kita sering merasakan apabila kita berjuang dengan semangat yang gigih untuk mengubah perkara dasar yang telah Allah tetapkan dan Dia –tentu saja – Maha Melihat kegigihan kita itu, kemudian bersimpati dengan kita lalu Dia pun membuat ketentuan baru supaya terlaksana takdir baru yang sesuai dengan perjuangan kita. Kita seolah merasakan kehendak dan usaha kita berada di hadapan, sementara Kehendak dan aturan Allah mengikut di belakang. Anggapan dan perasaan yang demikian bisa membawa kepada kesesatan dan kedurhakaan yang besar karena kita meletakkan diri kita pada taraf Tuhan dan Tuhan kita letakkan pada taraf hamba yang menuruti telunjuk kita.

Cara menjauhkan diri dari kesesatan dan kedurhakaan yang besar itu kita perlu sangat memahami soal sunnatullah atau ketentuan Allah. Segala kejadian berlaku menurut ketentuan, pengurusan dan pengaturan Allah. Tidak ada yang berlaku secara kebetulan. Ilmu Allah meliputi yang awal dan yang akhir, yang azali dan yang abadi. Apa yang terwujud dan apa yang terjadi telah ada pada Ilmu-Nya.

Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah tertulis di dalam Kitab (Lauhil Mahfudz) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Ayat 22 : Surah al-Hadiid)

Maha Berkah Tuhan Dzat yang menguasai kerajaan (dunia dan akhirat); dan Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu; - ( Ayat 1 : Surah al-Mulk )

Dan Dialah yang telah mengatur (keadaan makhluk-makhluk-Nya) serta memberikan hidayah petunjuk (ke jalan keselamatannya dan kesempurnaannya); ( Ayat 3 : Surah al-A’laa)

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air (di sana sini), lalu bertemulah air (langit dan bumi) itu untuk (melakukan) satu perkara yang telah ditetapkan. ( Ayat 12 : Surah al-Qamar )

Segala perkara, apapun istilah yang digunakan, adalah termasuk dalam ketentuan Allah. Apa yang kita istilahkan sebagai perjuangan, ikhtiar, doa, kekeramatan, mukjizat dan lain-lain semuanya adalah ketentuan Allah. Pagar takdir mengelilingi segala-galanya dan tidak ada sebesar atom pun yang mampu menembus benteng takdir yang maha teguh. Tidak terjadi perjuangan dan ikhtiar melainkan perjuangan dan ikhtiar tersebut telah ada dalam pagar takdir. Tidak berdo’a orang yang berdo’a melainkan berdo’a itu adalah takdir untuknya yang sesuai dengan ketentuan Allah untuknya. Perkara yang dido’akan juga tidak lari dari pada ketentuan Allah. Tidak berlaku kekeramatan dan mukjizat melainkan kekeramatan dan mukjizat itu adalah takdir yang tidak menyimpang daripada pengurusan dan pengaturan Allah. Tidak menghirup satu nafas atau berdenyut satu nadi melainkan yang demikian adalah takdir yang mewujudkan urusan Allah.


Kami datang dari Allah dan kepada Allah kami kembali.

Segala perkara datangnya dari Allah atau Dia yang mengadakan ketentuan tanpa campur tangan siapapun. Segala perkara kembali kepada-Nya karena Dialah yang memastikan hukum dan ketentuan-Nya terlaksana tanpa siapa pun mampu menghalangi urusan-Nya.

Apabila sudah dipahami bahwa usaha, ikhtiar, menyerah diri dan segala-galanya adalah takdir yang menurut pada ketentuan Allah, maka seseorang tidak lagi merasa bingung pada istilah berikhtiar atau menyerah diri. Ikhtiar dan berserah diri sama-sama berada di dalam pagar takdir.

Jika seseorang menyadari maqomnya apakah asbab atau tajrid maka dia hanya perlu bertindak sesuai dengan maqomnya. Ahli asbab perlu berusaha dengan gigih menurut keadaan hukum sebab-akibat. Apa pun hasil yang muncul dari usahanya diterimanya dengan senang hati karena dia tahu hasil itu juga adalah takdir yang telah diatur oleh Allah. Jika hasilnya baik dia akan bersyukur karena dia tahu bahwa kebaikan itu datangnya dari Allah. Jika tidak ada ketentuan baik untuknya, niscaya tidak mungkin ia mendapat kebaikan. Jika setelah bekerja keras, hasilnya tidak sesuai dengan harapan, dia akan bersabar karena dia tahu apa yang datang kepadanya itu adalah menurut ketentuan Allah bukan tunduk kepada usaha dan ikhtiarnya. Walaupun hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan, ia tetap yakin usaha baik yang dilakukannya tetap diberi pahala dan keberkahan oleh Allah sekiranya dia bersabar dan rela dengan apapun takdir yang sampai kepadanya itu.

Ahli tajrid pun hendaknya ridha dengan suasana kehidupannya dan tetap yakin dengan jaminan Allah. Dia tidak harus merengut jika terjadi kekurangan pada rezekinya, atau kesusahan menimpanya. Suasana kehidupannya adalah takdir yang sesuai dengan apa yang Allah tentukan. Rezeki yang sampai kepadanya adalah juga ketentuan Allah. Jika terjadi kekurangan atau kesusahan maka ia juga masih di dalam pagar takdir yang ditentukan oleh Allah. Begitu juga jika terjadi keberkahan dan kekeramatan pada dirinya, dia harus melihat itu sebagai takdir yang menjadi bagiannya.

Persoalan takdir berkait rapat dengan persoalan hakikat. Hakikat membawa pandangan dari yang banyak kepada yang satu. Perhatikan sebiji benih kacang. Setelah ditanam, benih yang kecil itu akan tumbuh dengan sempurna, mengeluarkan beberapa banyak buah kacang. Buah kacang tersebut dijadikan pula benih untuk menumbuhkan pokok-pokok kacang yang lain. Begitulah seterusnya sehingga kacang yang semula dari satu biji benih menjadi berjuta-juta kacang. Kacang yang berjuta-juta itu tidak ada bedanya dengan kacang yang pertama. Benih kacang yang pertama itu bukan saja berkemampuan untuk menjadi sebatang pokok kacang, malah ia mampu mengeluarkan semua generasi kacang sehingga hari kiamat. Ia hanya boleh mengeluarkan kacang, tidak benda lain.

Kajian akal boleh mengakui bahawa semua kacang mempunyai zat yang sama, yaitu gen kacang. Gen kacang pada benih pertama serupa dengan gen kacang pada yang ke satu juta malah ia adalah gen yang sama atau yang satu. Gen kacang yang satu itulah ‘bergerak’ pada semua kacang, memastikan yang kacang akan menjadi kacang, tidak menjadi benda lain.

Gen terdiri dari kumpulan informasi. Informasi bukan bersifat materi, untuk kasus kacang boleh kita namakan “Hakikat Kacang”. Ia adalah suasana keTuhanan yang mengatur, mengurus serta mengawal seluruh pertumbuhan kacang dari permulaan hingga kesudahan, sampai hari kiamat. Hakikat Kacang inilah suasana pengaturan dan pengurusan Allah dan Dialah yang telah tentukan untuk semua kejadian kacang. Apa saja yang dikuasai oleh Hakikat Kacang tidak ada pilihan kecuali menjadi kacang.

Suasana pengaturan dan pengurusan Allah yang mengatur dan mengurus serta mengawal wujud keturunan manusia kita namakan pula sebagai “Hakikat Manusia” atau “Hakikat Insan”. Allah telah menciptakan manusia yang pertama, yaitu Adam a.s menurut Hakikat Insan yang ada pada sisi-Nya. Pada kejadian Adam a.s itu telah disimpankan bakat dan kemampuan untuk melahirkan semua keturunan manusia hingga hari kiamat. Manusia akan tetap melahirkan manusia karena hakikat yang menguasainya adalah Hakikat Manusia.

Pada Hakikat Manusia itu ada hakikat tersendiri yang menguasai satu individu manusia dan saling ketergantungannya dengan segala kejadian alam yang lain. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Nabi” pasti menjadi nabi. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Wali” pasti akan menjadi wali. Suasana pengaturan dan pengurusan Allah atau hakikat itu menguasai ruh yang berkaitan dengannya. Ruh bekerja mewujudkan segala perintah yang ada dengan hakikat yang menguasainya. Kerja ruh adalah menjalankan urusan Allah yaitu menyatakan hakikat yang ada pada sisi Allah.


Dan katakan: “ Ruh itu dari perkara urusan Tuhanku”. ( Ayat 85 : Surah Al-Israa’ )

Pengaturan dan pengurusan Allah menguasai ruh dan sekaligus mengarahkan ruh untuk mewujudkan ketentuan-Nya yang telah tertulis semenjak jaman azali. Allah telah menentukan hakikat sesuatu sejak jaman azali. Tidak ada perubahan pada ketentuan Allah. Segala sesuatu dikawal oleh hakikat yang pada sisi Allah. Unta tidak boleh meminta menjadi kambing. Kera tidak boleh meminta menjadi manusia. Manusia tidak boleh meminta menjadi malaikat. Segala ketentuan telah diputuskan oleh Allah.

4. ALLAH MAHA MENGATUR SEGALA URUSAN

TENANGKAN HATIMU DARI URUSAN PENGATURAN DAN PENGURUSAN, KARENA APA YANG DIATUR OLEH SELAIN-MU TENTANG URUSAN DIRIMU, TIDAK PERLU ENGKAU CAMPUR TANGAN.

Kita bertauhid melalui dua cara, pertama bertauhid dengan akal dan kedua bertauhid dengan hati. Bidang akal ialah ilmu dan jangkauan ilmu sangat luas, bermula dari pokok, kemudian kepada dahan-dahan dan seterusnya kepada ranting-ranting. Setiap ranting ada ujungnya, yaitu penyelesaiannya.

Ilmu bersepakat pada perkara pokok, berangsur berbeda pada cabangnya dan berselisih pada rantingnya atau penyelesaiannya. Jawaban suatu masalah selalu berubah-ubah menurut pendapat yang lebih benar yang baru ditemui. Apa yang dianggap benar pada permulaanya bisa jadi dipersalahkan pada ujungnya. Oleh karena ilmu bersifat demikian, maka orang awam yang larut membahas suatu perkara bisa jadi mengalami kekeliruan dan kekacauan pikiran. Salah satu perkara yang mudah mengganggu pikiran ialah soal takdir atau Qada (ketetapan Allah sejak azali) dan Qadar (perwujudan ketetapan Allah itu). Jika persoalan ini dibahas hingga kepada persoalan yang lebih detil lagi, seseorang akan menemui kebuntuan karena ilmu tidak akan mampu memberikan jawaban yang konkrit.

Qada dan Qadar diimani dengan hati. Tugas ilmu ialah membuktikan kebenaran apa yang diimani. Jika ilmu bertindak menggoyangkan iman maka ilmu itu harus disekat dan hati harus dibawa tunduk dengan iman. Kalimat Hikmah keempat di atas membimbing ke arah itu agar iman tidak dicampur dengan keraguan.

Selama nafsu dan akal menjadi hijab, beriman kepada perkara ghaib dan menyerah diri secara menyeluruh tidak akan dicapai. Qada dan Qadar termasuk dalam perkara ghaib. Perkara ghaib disaksikan dengan mata hati atau basirah. Mata hati tidak dapat memandang jika hati dibungkus oleh hijab nafsu. Nafsu adalah kegelapan, bukan kegelapan lahir tetapi kegelapan dalam keghaiban.

Kegelapan nafsu itu menghijab sedangkan mata hati memerlukan cahaya ghaib untuk melihat perkara ghaib. Cahaya ghaib yang menerangi alam ghaib adalah cahaya ruh karena ruh adalah urusan Allah. Cahaya atau nur hanya bersinar apabila sesuatu itu ada perkaitan dengan Allah.


Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi. ( Ayat 35 : Surah an-Nur )

Dialah Yang Maha Tinggi derajat kebesaran-Nya, yang mempunyai Arasy (yang melambangkan keagungan dan kekuasaan-Nya); Ia memberikan wahyu perintah-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya (yang telah dipilih menjadi Rasul-Nya), supaya Ia memberi peringatan (kepada manusia) tentang hari pertemuan, - ( Ayat 15 : Surah al-Mu’min )

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad) – Al-Quran sebagai ruh (yang menghidupkan hati) dengan perintah Kami; engkau tidak pernah mengetahui (sebelum diwahyukan kepadamu); apakah Kitab (Al-Quran) itu, dan tidak juga mengetahui apakah iman itu; akan tetapi Kami jadikan Al-Quran cahaya yang menerangi, Kami beri petunjuk dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) membimbing dengan Al-Quran itu ke jalan yang lurus, - yaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai perkara yang ada di langit dan di bumi. Kepada Allah jualah kembali segala urusan. ( Ayat 52 & 53 : Surah asy-Syura )

Apabila cahaya ruh berhasil menghalau kegelapan nafsu, mata hati akan menyaksikan yang ghaib. Persaksian atau musyahadah mata hati membawa hati beriman kepada perkara ghaib dengan sebenar-benarnya.

Allah telah menghamparkan jalan yang lurus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dia berfirman:

Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagimu Diinmu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku telah ridhakan Islam itu menjadi Diinmu. ( Ayat 3 : Surah al-Maa’idah )

Umat Islam (yang mengamalkan ajaran Islam dengan sempurna) adalah umat terbaik karena Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka dengan mengaruniakan Islam. Allah menjamin juga bahwa Dia ridha menerima Islam sebagai Diin (aturan hidup) mereka. Jaminan Allah itu sudah cukup bagi mereka yang menuntut keridhaan Allah untuk tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, sebaliknya terus berjalan mengikut landasan yang telah dibangun oleh Islam.

Islam adalah pelembagaan yang lengkap mencakupi semua aspek kehidupan baik yang lahir maupun yang batin. Islam telah menjelaskan apa yang mesti diperbuat, apa yang mesti tidak diperbuat, bagaimana bertindak menghadapi sesuatu dan bagaimana jika tidak melakukan apa-apa. Segala peraturan dan etika sudah dijelaskan dari perkara yang paling kecil hingga kepada yang paling besar. Sudah dijelaskan cara beribadah, cara berhubungan sesama manusia, cara membagikan harta pusaka, cara mencari dan membelanjakan harta, cara makan, cara minum, cara berjalan, cara mandi, cara memasuki jamban, cara melaksanakan hukum qisas, cara melakukan hubungan seksual, cara menyempurnakan mayat dan semua aspek kehidupan diterangkan dengan jelas.

Umat Islam sebenarnya tidak perlu bertengkar tentang penyelesaian terhadap suatu masalah. Segala penyelesaian telah dibentangkan, hanya tegakkan iman dan rujuk kepada Islam itu sendiri niscaya segala pertanyaan akan terjawab. Begitulah besarnya nikmat yang dikaruniakan kepada umat Islam. Kita perlu menjiwai Islam untuk merasakan nikmat yang dikaruniakan itu. Kewajiban kita ialah melakukan apa yang telah Allah atur sementara hak mengatur atau mentadbir adalah hak Allah yang mutlak. Jika terdapat peraturan Allah yang tidak disetujui oleh nafsu kita, janganlah mengubah peraturan tersebut atau membuat peraturan baru, sebaliknya nafsu hendaklah ditekan supaya tunduk kepada peraturan Allah. Jika pendapat akal sesuai dengan Islam maka yakinilah akan kebenaran pendapat tersebut, dan jika penemuan akal berlainan dengan Islam maka akuilah bahwa akal telah khilaf di dalam penemuannya. Jangan memaksa Islam supaya tunduk kepada penemuan akal yang bersifat relatif , tetapi tundukkan akal kepada aturan Islam.

Orang yang mengamalkan tuntutan Islam disertai dengan beriman kepada Qada dan Qadar, jiwanya akan sentiasa tenang dan damai. Putaran roda kehidupan tidak membolak-balikkan hatinya karena dia melihat apa yang berlaku adalah menurut apa yang mesti berlaku. Dia mengamalkan ajaran terbaik yang telah dijamin oleh Allah. Hatinya tunduk kepada hakikat bahwa Allah yang mengatur dan mengurus, sementara seluruh hamba berkewajiban taat kepada-Nya, tidak perlu ikut campur dalam urusan-Nya.

Mungkin timbul pertanyaan apakah orang Islam tidak boleh menggunakan akal pikiran, tidak boleh mengurus kehidupannya dan tidak boleh berusaha memperbaiki kehidupannya? Apakah orang Islam mesti menyerah bulat-bulat kepada takdir tanpa usaha?

Allah menceritakan tentang urusan orang yang beriman:

Maka Yusuf pun mulai memeriksa tempat-tempat barang mereka, sebelum memeriksa tempat barang saudara kandungnya (Bunyamin), kemudian ia mengeluarkan benda yang hilang itu dari tempat simpanan barang saudara kandungnya. Demikianlah Kami sukseskan rencana untuk (menyampaikan hajat) Yusuf. Tidaklah ia akan dapat mengambil saudara kandungnya menurut undang-undang raja, kecuali jika dikehendaki oleh Allah. (Dengan ilmu pengetahuan), Kami tinggikan pangkat kedudukan siapa saja yang Kami kehendaki; dan tiap-tiap yang berilmu pengetahuan, ada lagi di atasnya yang lebih mengetahui. (Ayat 76 : Surah Yusuf )

Dan kepunyaan-Nya jualah kapal-kapal yang berlayar di lautan laksana gunung-gunung. (Ayat 24 : Surah ar-Rahmaan )

Nabi Yusuf a.s, dengan kepandaiannya, mengadakan muslihat untuk membawa saudaranya, Bunyamin, tinggal dengannya. Kepandaian dan muslihat yang pada lahirnya diatur oleh Nabi Yusuf a.s tetapi dengan tegas Allah mengatakan Dialah yang mengatur muslihat tersebut dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Kapal yang pada lahiriahnya dibangun oleh manusia tetapi dengan tegas Allah mengatakan kapal itu adalah kepunyaan-Nya. Ayat-ayat di atas memberi pengajaran mengenai “usaha” yang dilakukan oleh manusia.

Rasulullah s.a.w sendiri menganjurkan agar pengikut-pengikut baginda s.a.w mengurus kehidupan mereka. Akan tetapi, usaha yang disarankan oleh Rasulullah s.a.w ialah usaha yang tidak memutuskan hubungan dengan Allah, tidak berpaling dari tawakal dan penyerahan kepada Allah yang mengatur dan mengurus terlaksananya sesuatu. Janganlah seseorang menyangka apabila dia menggunakan otaknya untuk berpikir maka otak itu berfungsi dengan sendiri tanpa campur tangan Ilahi. Dari mana datangnya ilham yang diperoleh otak itu jika tidak dari Allah? Allah lah yang telah membuat otak, membuatnya berfungsi dan Dia juga yang mendatangkan buah pikiran kepada otak itu.

Usaha yang dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w ialah usaha yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunah. Islam hendaklah dijadikan penyaring untuk mencari pendapat dan tindakan yang benar dari yang salah. Islam menegaskan bahwa sekiranya tidak ada daya dan upaya dari Allah, pasti tidak ada apapun yang dapat dilakukan oleh siapapun. Oleh karena itu, seseorang mestinya menggunakan daya dan upaya yang dikaruniakan Allah kepadanya di jalan yang diridhai Allah. Seorang hamba Allah tidak sepatutnya melepaskan diri dari penyerahan kepada Allah Yang Maha Mengatur. Apabila apa yang ditakdirkan-Nya sukses menjadi kenyataan maka dia akui bahwa kesuksesannya itu adalah karena persesuaian usahanya dengan kehendak Allah. Jika apa yang usahakannya tidak sukses, harus diakui pula bahwa usahanya wajib tunduk kepada aturan Allah dan ketidak suksesannya itu juga termasuk di dalam pengaturan Allah. Hanya Allah lah yang berhak untuk menentukan. Allah Maha Berdiri Sendiri, tidak ada siapapun yang mampu campur tangan dalam urusan-Nya.

Bersambung.....

Teks asli bisa diakses di sini : http://alhikam0.tripod.com/

5. MATA HATI YANG BUTA

KESUNGGUHANMU UNTUK MEMPEROLEH APA YANG TELAH TERJAMIN UNTUKMU DIBARENGI DENGAN PENGABAIANMU TERHADAP KEWAJIBAN YANG DIAMANATKAN KEPADAMU MENUNJUKKAN BUTA MATA HATI

Kalimat Hikmah ke 5 ini merupakan lanjutan dari kalimat hikmah yang lalu. Imam Ibnu Athaillah menceritakan pengaruh hijab nafsu dan hijab akal yang menutupi hati daripada melihat kepada takdir yang menjadi ketentuan Allah. Ada tiga perkara yang dikemukakan untuk direnungi :


1. Jaminan Allah
2. Kewajiban hamba
3. Mata hati yang mengenal jaminan Allah dan kewajiban hamba.

Penyingkapan rahasia mata hati adalah penting untuk memahami Kalimat Hikmah di atas. Mata hati ialah mata bagi hati atau boleh juga dikatakan kemampuan mengenal yang dimiliki oleh hati. Kadang-kadang mata hati ini disebut sebagai mata batin. Istilah ‘mata batin’ digunakan untuk membedakan istilah ini dengan mata lahir, yaitu mata yang dimiliki oleh diri lahiriah.

Diri lahir tersusun atas daging, darah, tulang, sumsum, rambut, kulit dan lain-lain. Diri lahir ini memiliki kemampuan melihat, mendengar, mencium, merasa dan menyentuh. Diri lahir memperoleh kehidupan dari perjalanan darah ke seluruh tubuh dan aliran udara yang keluar masuk melalui hidung dan mulut. Jika darah dikeringkan atau dibekukan ataupun jika aliran udara yang keluar masuk itu disekat maka diri lahir akan mengalami satu keadaan di mana terhenti berfungsi dan ia dinamakan mati. Diri lahir ini jika disusun ia terdiri dari tubuh dan nyawa serta indera-indera yang dapat mengenal sesuatu yang bersifat lahiriah. Pusat perintahnya ialah otak yang menerima pengaruh rangsangan dari indera-indera dan juga mencetuskan pertimbangan bagi pikiran.

Diri batin juga mempunyai susunan yang sama seperti diri lahir tetapi dalam keadaan ghaib. Ia juga mempunyai tubuh yang dipanggil qolbu atau hati. Hati yang dimaksudkan bukanlah sepotong daging yang berada di dalam tubuh. Ia merupakan hati rohani. Ia bukan kejadian alam kasar, sebab itu ia tidak dapat dilihat dan diraba oleh pancaindera lahir. Ia termasuk di dalam perkara-perkara ghaib yang diistilahkan sebagai Lathifah Rabbaniah atau hal yang menjadi rahasia ketuhanan. Apabila di dalam keadaan suci bersih ia dapat mendekati atau bertaqarub kepada Allah. Ia juga yang menjadi tempat jatuhnya pandangan Allah. Hati ini juga memiliki nyawa yang dibahasakan sebagai ruh. Ruh juga termasuk di dalam golongan Lathifah Rabbaniah. Ia adalah urusan Allah dan manusia hanya mempunyai sedikit pengetahuan mengenainya.

Katakan: “Ruh itu dari perkara urusan Tuhanku; dan kamu tidak diberi ilmu pengetahuan melainkan sedikit saja”. ( Ayat 85 : Surah Bani Israil )

Tubuh rohani juga mempunyai sifat yakni mempunyai kemampuan mencetuskan pemahaman dan pengetahuan. Ia dipanggil akal yang juga termasuk di dalam golongan Lathifah Rabbaniah yang tidak mampu diuraikan. Akal jenis ini berguna bagi pengajaran tentang keTuhanan.

Tubuh lahir mempunyai indera-indera untuk mengenal perkara lahiriah. Indera-indera tersebut disebut sebagai penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan penyentuhan. Alat-alat lahiriah yang berhubungan dengannya ialah mata, telinga, hidung, lidah, tangan dan lain-lain.

Tubuh rohani atau diri batin juga mempunyai indera yang mengenal perkara ghaib dan indera ini dinamakan basirah atau mata hati. Ia berbeda daripada sifat melihat yang dimiliki oleh mata lahir. Mata lahir melihat perkara lahir dan mata hati syuhud atau menyaksikan kepada yang ghaib.

Apa yang ada di sekeliling kita bisa dilihat melalui dua aspek yaitu yang nyata dilihat dengan mata lahir dan yang ghaib dilihat dengan mata hati. Jika kita ambil sepotong gula, mata kasar melihat sejenis hablur berwarna keputihan. Bila diletakkan pada lidah terasalah manisnya. Ketika menikmati rasa manis itu kita seolah-olah memandang jauh kepada sesuatu yang tidak ada di hadapan mata. Kelakuan merenung jauh itu sebenarnya adalah terjemahan kepada perbuatan mata hati memandang kepada hakikat gula, yaitu manis. Bagaimana rupa manis tidak dapat diceritakan tetapi mata hati yang melihat kepadanya mengenal bahwa gula adalah manis. Jika mata lahir melihat sebilah pedang, maka mata hati akan melihat pada tajamnya. Jika mata lahir melihat kepada lada, mata hati melihat kepada pedasnya. Jadi, mata lahir mengenal dan membedakan rupa yang lahir sementara mata hati mengenal dan membedakan hakikat yang lahir.

Mata hati yang hanya berfungsi mengenal manis, tajam, pedas dan yang seumpamanya masih dianggap sebagai mata hati yang buta. Mata hati hanya dianggap tajam jika ia mampu melihat urusan keTuhanan di balik yang nyata dan yang tidak nyata.

Kekuatan mata hati bergantung kepada kekuatan hati itu sendiri. Semakin bersih dan suci hati bertambah teranglah mata hati. Jika ia cukup terang, ia bukan saja mampu melihat kepada yang tersembunyi di balik rupa yang lahir di sekeliling kita, malah ia mampu melihat atau syuhud (menyaksikan) apa yang di luar dunia. Dunia adalah segala sesuatu yang berada di dalam bulatan langit yang pertama atau langit dunia atau langit rendah. Langit rendah ini merupakan bagian dunia. Selepas langit dunia dinamakan Alam Barzakh. Meninggal dunia artinya ruh yang rumahnya yaitu jasad sudah tidak sesuai lagi didiaminya. Ruh akan dibawa keluar dari langit dunia dan ditempatkan di dalam Alam Barzakh.

Fungsi mata hati ialah melihat yang hakiki. Mata hati yang mampu melihat dunia secara keseluruhan sebagai satu wujud akan mengenali apa yang hakiki tentang dunia itu. Oleh sebab penyaksian mata hati bersifat tidak dapat dinyatakan secara terang maka ia memerlukan ibarat untuk mendatangkan pemahaman. Perumpamaan yang biasa digunakan tentang hakikat dunia ialah: “Dunia ini ibarat seorang perempuan yang sudah sangat tua dan sudah sangat renta. Tubuhnya kotor dan berpenyakit, borok di sana sini dan ada bagian lainnya ada yang sudah dimakan belatung”. Begitulah lebih kurang perasaan orang yang melihat kepada hakikat dunia dengan mata hatinya. Bagaimana rupa hakikat yang menyebabkan timbul perasaan dan ibarat yang demikian tidak dapat diuraikan.

Mata hati yang lebih kuat mampu pula menyaksikan Alam Barzakh dan mengenali satu lagi hakikat yang dinamakan keabadian, yaitu sifat hari akhirat. Kematian membinasakan jasad dan kiamat membinasakan alam seluruhnya tetapi tidak membinasakan ruh yang padanya tergantung kitab amalan masing-masing. Ahli maksiat tidak dapat diselamatkan oleh kematian dan kiamat. Ahli taat yang tidak mendapat ganjaran yang setimpal di dunia tidak binasa ketaatannya oleh kematian dan kiamat.

Tanggungjawab seseorang hamba akan terus dipikulnya selepas kematian, Alam Barzakh, Kiamat, Padang Mahsyar dan seterusnya menghadapi Penguasa hari pembalasan. Tanggungjawab itu hanya gugur setelah Hakim Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil lagi Maha Mengetahui serta Maha Perkasa menjatuhkan hukuman. Inilah hakikat yang ditemui oleh mata hati yang menyelami Alam Barzakh, bukan melihat ruh orang mati di dalam kubur.

Mata hati berfungsi mengenal perkara yang ghaib. Makrifat atau pengenalan kepada keabadian atau hari akhirat akan melahirkan kesungguhan pada menjalankan amanat Allah, yaitu mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Amanat itu akan terus dibawa oleh para hamba untuk diserahkan kembali kepada Allah yang meletakkan amanat tersebut kepada mereka. Makrifat mata hati yang demikian melahirkan sifat takwa dan beramal salih. Apabila takwa dan amal salih menjadi sifat seorang hamba maka masuklah hamba itu ke dalam jaminan Allah.

Dialah Tuhan yang memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda keEsaan-Nya dan kekuasaan-Nya (untuk menghidupkan ruh kamu), dan yang menurunkan (untuk jasmani kamu) sebab-sebab rezeki dari langit. Dan tiadalah yang ingat serta mengambil pelajaran (dari yang demikian) melainkan orang yang sentiasa bergantung kepada Allah. ( Ayat 13 : Surah al-Mu’min )

Allah berfirman dalam Hadis Qudsi:


Hamba-Ku, taatilah semua perintah-Ku, jangan membeberkan keperluan kamu.

Allah sebagai Tuhan, Tuan atau Majikan tidak sekali-kali mengabaikan tanggungjawab-Nya untuk memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya sementara hamba-hamba-Nya berkewajipan mentaati Tuan mereka. Rezeki telah dijamin oleh Allah dan untuk mendapatkan rezeki tersebut seseorang hamba hanya perlu bertindak sesuai dengan maqomnya. Jika dia seorang ahli asbab maka bekerjalah ke arah rezekinya dan jangan iri hati terhadap rezeki yang dikaruniakan kepada orang lain. Jika dia ahli tajrid maka bertawakalah kepada Allah dan jangan gusar jika terjadi kekurangan dalam urusan rezeki.

Dimanapun maqom seorang hamba berada, dia mesti melakukan kewajiban yaitu bersungguh-sungguh mentaati Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Hamba yang terbuka mata hatinya akan percaya dengan yakin terhadap jaminan Allah dan tidak mengabaikan kewajibannya. Hamba ini akan melipat-gandakan kegiatan dan kerajinannya untuk bertakwa dan beramal salih tanpa mencurigai jaminan Allah tentang rezekinya.

Hamba yang buta mata hatinya akan berbuat yang berlawanan, yaitu dia tekun dan rajin di dalam mencari rezeki yang dijamin oleh Allah tetapi dia mengabaikan tanggungjawab yang diamanatkan oleh Allah. Orang ini akan menggunakan daya usaha yang banyak untuk mendapatkan rezeki yang boleh jadi bisa didapat dengan usaha yang sederhana.

Mata hati melihat kepada yang hak dalam keghaiban. Nafsu yang hanya cenderung kepada kebendaan yang nyata menutupi yang hak itu dan akal mengadakan hujah (argumen) untuk menguatkan keraguan yang tumbuh pada nafsu. Perkara ghaib disaksikan dengan keyakinan. Jika nafsu dan akal bersepakat mengadakan keraguan, kebenaran yang ghaib akan terhijab. Orang yang mencari kebenaran tetapi gagal menundukkan nafsu dan akalnya akan berputar-putar di tempat yang sama. Keyakinan dan keraguan sentiasa berperang dalam jiwanya.

Bersambung..........

Teks asli bisa diakses di sini : http://alhikam0.tripod.com/

6. PENGERTIAN DOA

JANGANLAH KARENA LAMBATNYA MASA PEMBERIAN ALLAH KEPADAMU, PADAHAL KAMU TELAH BERSUNGGUH-SUNGGUH BERDOA, MEMBUAT KAMU BERPUTUS ASA, SEBAB ALLAH MENJAMIN UNTUK MENERIMA SEMUA DOA, MENURUT APA YANG DIPILIH-NYA UNTUK KAMU, TIDAK MENURUT KEHENDAK KAMU, DAN PADA WAKTU YANG DITENTUKAN-NYA, TIDAK PADA WAKTU YANG KAMU TENTUKAN

Apabila kita ingin mendapatkan sesuatu, baik urusan duniawi maupun urusan ukhrawi maka kita akan berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Jika usaha kita tidak mampu mencapai apa yang kita inginkan, kita akan meminta pertolongan kepada orang yang dianggap mampu memberi bantuan. Jika mereka juga tidak mampu membantu kita untuk mencapai hajat yang kita inginkan, maka kita akan memohon pertolongan Allah, menengadahkan tangan berdo’a sepenuh hati kadang sambil air mata bercucuran dan suara yang merayu-rayu menyatakan permohonan kepada-Nya. Selagi keinginan kita belum tercapai selagi itulah kita bermohon dengan sepenuh hati. Tidak ada kesukaran bagi Allah untuk memenuhi keperluan kita. Sekiranya Dia mengaruniakan kepada kita semua khazanah yang ada di bumi dan langit maka pemberian-Nya itu tidak sedikit pun mengurangi kekayaan-Nya. Seandainya Allah menahan dari memberi maka tindakan demikian tidak sedikit pun menambahkan kekayaan dan kemuliaan-Nya. Jadi, dalam soal memberi atau menahan tidak sedikit pun memberi pengaruh kepada keTuhanan Allah. Ketuhanan-Nya adalah mutlak tidak sedikit pun terikat dengan kehendak, doa dan amalan hamba-hamba-Nya.


Dan Allah berkuasa melakukan apa yang di kehendaki-Nya.

( Ayat 27 : Surah Ibrahim )



Semuanya itu tunduk di bawah kekuasaan-Nya.

( Ayat 116 : Surah al-Baqarah )


Ia tidak boleh ditanya tentang apa yang Ia lakukan, sedang merekalah yang akan ditanya kelak. ( Ayat 23 : Surah al-Anbiyaa’ )

Sebagian besar dari kita kadang tidak sadar bahwa kita “mensyirikkan” Allah dengan doa dan amalan kita. Kita jadikan doa dan amalan sebagai kuasa penentu atau setidak-tidaknya kita menganggapnya sebagai mempunyai kuasa tawar menawar dengan Allah, seolah-olah kita berkata, “Ya Allah, Aku sudah membuat tuntutan maka Engkau wajib memenuhinya. Aku sudah beramal maka Engkau wajib membayar upahnya!” Siapakah sebenarnya yang berkedudukan sebagai Tuhan, kita atau Allah? Sekiranya kita tahu bahwa diri kita ini adalah hamba maka berlagaklah sebagai hamba dan jagalah sopan santun terhadap Tuan. Hak hamba ialah rela dengan apa juga keputusan dan pemberian Tuannya.

Doa adalah penyerahan bukan tuntutan. Kita telah berusaha tetapi gagal. Kita telah meminta pertolongan makhluk tetapi itu juga gagal. Apa lagi pilihan yang masih ada kecuali menyerahkan segala urusan kepada Allah yang di Tangan-Nya terletak segala perkara. Serahkan kepada Allah dan tanyalah kepada diri sendiri mengapa Allah menahan kita dari memperoleh apa yang kita inginkan? Apakah tidak mungkin apa yang kita inginkan itu bisa jadi mendatangkan mudarat kepada diri kita sendiri, hingga lantaran itu Allah Yang Maha Penyayang menahannya? Bukankah Dia Tuhan Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang lagi Maha Mengetahui.

Bukankah Allah yang menciptakan seluruh makhluk itu mengetahui (segala-galanya)? Sedang Ia Maha Halus urusan Pengaturan-Nya, lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya. ( Ayat 14 : Surah al-Mulk )

Dialah yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, (dan Dialah jua) yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. ( Ayat 18 : Surah at-Taghaabun )

Apa saja ayat keterangan yang Kami mansuhkan (batalkan), atau yang Kami tinggalkan (atau tangguhkan), Kami datangkan ganti yang lebih baik daripadanya, atau yang sebanding dengannya. Tidakkah engkau mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu? ( Ayat 106 : Surah al-Baqarah )

Allah Maha Halus (Maha Terperinci Maha Mendetail), Maha Mengerti dan Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Allah yang bersifat demikian menentukan buat diri-Nya apa saja yang Dia batalkan digantikannya dengan yang lebih baik atau yang sama baik. Dia mampu berbuat demikian karena Dia tidak bersekutu dengan siapapun dan Dia Maha Berkuasa.


Seorang hamba senantiasa memerlukan pertolongan Allah. Apa yang diinginkan dan diharapkannya disampaikannya kepada Allah. Semakin banyak keinginannya semakin banyak pula doa yang disampaikannya. Kadang-kadang berlaku satu permintaan berlawanan dengan permintaan yang lain atau satu permintaan itu menghalang permintaan yang lain. Manusia hanya melihat kepada satu doa tetapi Allah menerima kedatangan semua doa dari satu orang manusia itu.

Manusia yang dikuasai oleh hati, jiwanya berbolak-balik dan keinginan serta keperluannya tidak menetap. Allah yang menguasai segala perkara tidak berubah-ubah. Manusia yang telah meminta satu kebaikan boleh jadi meminta pula sesuatu yang tidak baik atau kurang baik bagi dirinya. Allah yang menentukan yang terbaik untuk hamba-Nya tidak berubah kehendak-Nya. Dia telah menetapkan buat Diri-Nya:

Bertanyalah (wahai Muhammad): “Milik siapakah segala yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “(Semuanya itu) adalah milik Allah, Ia telah menetapkan atas diri-Nya memberi rahmat.” (Ayat 12 : Surah al-An’aam )

Orang yang beriman selalu berdo’a :


“Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka”. ( Ayat 201 : Surah al-Baqarah )

Hamba yang mendapat rahmat Allah menerima dan menjadikan doa di atas sebagai induk segala doa-doanya. Doa yang telah diterima oleh Allah menyaring doa-doa yang lain. Jika kemudian si hamba meminta sesuatu yang mendatangkan kebaikan hanya kepada penghidupan dunia saja, tidak untuk akhirat dan tidak menyelamatkannya dari api neraka, maka doa induk itu menahan doa yang datang kemudian. Hamba itu dipelihara dari sesuatu yang menggerakkannya ke arah yang ditunjukkan oleh doa induk itu. Jika permintaannya sesuai dengan doa induk, dia akan dipermudahkan mendapat apa yang dimintanya itu.

Oleh sebab do’a adalah penyerahan kepada Yang Maha Penyayang dan Maha Mengetahui. Menghadaplah kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya serta ucapkan, “Wahai Robb Yang Maha Lembut, Maha Mengasihani, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, aku adalah hamba yang bersifat tergesa-gesa, lemah dan jahil. Hamba mempunyai keinginan tetapi hamba tidak tahu akibatnya bagi diri hamba, sedangkan Engkau Maha Mengetahui. Sekiranya yang hamba inginkan ini baik akibatnya bagi dunia dan akhirat hamba dan melindungi dari api neraka maka karuniakanlah ia kepada hamba pada saat yang baik bagi hamba untuk menerimanya. Jika kesudahannya buruk bagi dunia dan akhirat hamba dan mendorong ke arah neraka, maka jauhkan ia dari diri hamba dan cabutkanlah segala keinginan terhadapnya. Sesungguhnya Engkaulah Tuhanku Yang Maha Mengetahui dan Maha Berdiri Sendiri”.

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dirancangkan berlakunya, dan Dialah juga yang memilih (satu-satu dari makhluk-Nya untuk sesuatu tugas atau keutamaan dan kemuliaan); tidaklah layak dan tidaklah berhak bagi siapapun memilih (selain dari pilihan Allah). Maha Suci Allah dan Maha Tinggilah keadaan-Nya dari apa yang mereka sekutukan dengan-Nya. { Ayat 68 : Surah al-Qasas }

Bersambung.............

Teks asli bisa diakses di sini : http://alhikam0.tripod.com/

7. PENGERTIAN JANJI ALLAH

JANGAN SAMPAI MERAGUKAN JANJI ALLAH KARENA TIDAK TERLAKSANA APA YANG TELAH DIJANJIKAN MESKIPUN TELAH TIBA MASANYA, SUPAYA KERAGUAN ITU TIDAK MERUSAK MATA HATIMU DAN TIDAK MEMADAMKAN CAHAYA SIR (MATA BATIN)MU

Doa dan janji Allah berkaitan erat. Allah menjanjikan untuk menerima semua doa. Seorang hamba sudah sangat kuat dan kerap berdo’a, hamba tersebut berdo’a agar diselamatkan dari suatu musibah. Masa musibah itu sudah tiba tetapi keselamatan yang diharapkan tidak kunjung datang. Timbulah keraguan dalam hati hamba itu tentang janji-janji Allah.

Sebagian orang beriman diuji dengan penerimaan atau penolakan do’a, sebagian yang lain diuji dengan terlaksananya atau tertahannya janji Allah.

Janji Allah ada dalam bentuk umum dan ada dalam bentuk khusus. Janji umum banyak terdapat di dalam al-Quran seperti janji surga terhadap orang yang berbuat kebajikan, janji neraka terhadap orang yang durhaka, janji ketinggian derajat bagi orang yang berjihad di jalan Allah, janji kekuasaan di atas muka bumi terhadap orang yang beriman dan beramal salih dan lain-lain lagi.

Di dalam surah an-Nisaa’ ayat 95 Allah menjanjikan ganjaran yang besar bagi orang yang berjihad di jalan-Nya. Dalam surah an-Nur ayat 55 Allah menjanjikan kepada orang yang beriman dan beramal salih bahwa mereka akan dijadikan khalifah di bumi, Dia akan teguhkan agama mereka dan Dia akan hilangkan ketakutan-ketakutan mereka.

Banyak lagi janji Allah yang dapat kita temukan di dalam al-Quran. Janji-janji Allah umumnya berkaitan dengan amal, sesuai dengan sunnatullah yang menguasai perjalanan kehidupan. Ada juga janji secara khusus kepada orang-orang tertentu, misalnya melalui mimpi.

Orang yang beriman kepada Allah percaya kepada janji-janji-Nya. Janji Allah menjadi pendorong kepada mereka untuk bekerja keras, beramal salih dan berjihad di jalan-Nya. Allah tidak akan pernah memungkiri janji-janji-Nya.

Namun, diantara golongan orang-orang yang percaya kepada janji-janji Allah itu, ada sebagian yang berpenyakit seperti yang diidap oleh sebagian orang yang berdo’a kepada Allah, yaitu orang yang berdo’a dan membuat tuntutan dengan do’anya, begitu pula dengan penyakit yang diidap oleh para pelaku amal yaitu mereka yang membuat tuntutan dengan amalnya, karena mereka menyangka Allah berjanji memberinya sesuatu menurut amalannya.

Kalimat Hikmah ketujuh mengaitkan janji Allah dengan mata hati dan Nur Sir (Rahasia Ilahi). Persoalan mata hati telah disentuh pada Hikmat ke lima. Penyingkapan rahasia mata hati membawa kita pada persoalan diri lahir, diri batin dan seterusnya hingga persoalan ruh. Penjelasan mengenai mata hati membawa kepada pengenalan terhadap Alam Barzakh dan keabadian.

Mata hati yang kuat tidak berhenti sampai pada Alam Barzakh, malah ia meneruskan ke peringkat alam yang lebih tinggi yang dinamakan Alam Malakut Atas. Pandangan mata hati seterusnya sampai kepada kulit alam yang dinamakan Arasy Yang Meliputi. Semua makhluk Allah menghuni ruang di dalam atau dibatasi oleh kulit atau kerangka alam, yaitu Arasy.

Tidak ada mahluk yang wujud di luar dari kulit alam. Di sini timbul persoalan berat dan rumit untuk diuraikan. Semua kejadian berada di dalam kulit alam. Kulit alam adalah yang terakhir. Apabila sudah sampai ke kulit alam tidak boleh dikatakan bahwa wujud keTuhanan berada di luar, selepas, di balik atau dengan istilah-istilah lain, karena tidak ada apa-apa lagi. Wujud ketuhanan bukanlah satu jenis alam lain. Tidak boleh dikatakan wujud alam Ketuhanan selepas alam kita ini. Allah Maha Berdiri Sendiri, tidak menempati ruang dan waktu, tidak juga terikat dengan ruang dan waktu. Jika demikian persoalannya, bagaimanakah yang dikatakan keTuhanan itu sedangkan kita sudah menjelajah ke seluruh alam metafisik tetapi Allah tidak juga ditemukan?

Antara alam yang sementara dengan alam abadi terdapat Alam Barzakh. Barzakh adalah sekatan. Barzakh itulah yang menghubungkan dua keadaan yang berbeda. Misalnya, barzakh bagi laut dan sungai ialah muara. Air laut adalah asin dan air sungai adalah tawar. Air pada barzakh keduanya, yaitu muara. Muara merupakan campuran asin dengan tawar rasanya dinamakan payau. Payau bukan asin dan bukan selain asin. Payau juga bukan tawar dan bukan selain tawar. Muara bukan laut dan bukan sungai dan bukan juga selain laut dan sungai. Jika mau melihat laut dan sungai dengan sekali pandang atau sebagai satu kewujudan maka lihatlah kepada muara. Jika mau merasai asin dan tawar sekaligus maka rasailah air payau.

Jika terdapat barzakh diantara makhluk dengan makhluk, terdapat juga barzakh diantara Tuhan dengan makhluk. Barzakh inilah yang menjadi penghubung antara Tuhan dengan hamba. Tanpa barzakh ini tidak mungkin berlaku kewujudan makhluk yang diciptakan Allah karena tidak ada talian atau jembatan yang menghubungkannya.

Barzakh di antara Allah dengan hamba itu dinamakan Sirullah atau Rahasia Allah, yang hanya Allah sajalah yang mengetahui hakikat yang sebenarnya. Sir inilah yang memungkinkan adanya hubungan diantara Pencipta dengan yang dicipta. Sir atau Rahasia itu memancarkan nurnya kepada mata hati. Mata hati yang bersinarkan Nur Sir (rahasia Ketuhanan) akan mendapat pengenalan tentang Sir dan mengalami suasana tauhid peringkat yang tertinggi. Apabila hakikat Sir ditemui nyatalah firman Allah :

Dan Kami adalah lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, - ( Ayat 16 : Surah Qaaf )

Dan Ia tetap bersama-sama kamu di mana saja kamu berada. ( Ayat 4 : Surah al-Hadiid )

“Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu!”( Ayat 96 : Surah as-Saaffaat )

Dan kamu tidak dapat menentukan kemauan kamu (mengenai sesuatu pun), kecuali dengan cara yang diatur oleh Allah, Tuhan yang memelihara dan mangurus seluruh alam. ( Ayat 29 : Surah at-Takwiir)


Tiada daya dan upaya kecuali beserta Allah.

Apa yang ada pada kita semuanya adalah karunia dari Allah. Kemauan kita untuk melakukan amal salih datangnya dari Iradat Allah, tanpa Iradat Allah kita akan menjadi dungu, tidak berkemauan. Apabila kita melakukan amal kebaikan, kita tidak terlepas dari menggunakan daya dan upaya yang datangnya dari Allah. Tanpa Kudrat Allah kita tidak mampu bergerak. Kemampuan kita untuk berdo’a dan beramal adalah semata-mata karunia Allah.

Mereka mengira dirinya berbudi kepadamu (wahai Muhammad) dengan sebab mereka telah Islam (tidak melawan dan tidak menentang). Katakanlah (kepada mereka): “Jangan kamu mengira keislaman kamu itu sebagai budi kepadaku, bahkan (kalaulah sah dakwaan kamu itu sekalipun maka) Allah jualah yang berhak membangkit-bangkitkan budi-Nya kepada kamu, karena Dialah yang memimpin kamu kepada iman, kalau betul kamu orang-orang yang benar (pengakuan imannya). ( Ayat 17 : Surah al-Hujuraat )

Kehendak dan perbuatan kita adalah anugerah dari Allah. Jadi, apakah hak kita untuk menuntut Allah dengan do’a dan amal kita. Memang benar Allah berjanji untuk mengabulkan semua do’a dan mengaruniakan sesuatu menurut amalan. Namun, tidak ada satupun makhluk-Nya yang layak menagih janji tersebut. Janji Allah kembali kepada diri-Nya Sendiri. Jangan coba-coba menuntut janji Allah sebab seandainya Dia menuntut kamu dengan amanah yang dipertaruhkan kepada kamu niscaya semua amalan kamu akan hancur berkeping-keping berterbangan bagai debu, tidak ada walau sebesar atom pun yang layak dipersembahkan kepada-Nya jika kamu dihadapkan kepada keadilan-Nya.

Oleh karena itu, bernaunglah di bawah payung rahmat dan ampunan-Nya, jangan diungkit-ungkit tentang amal kamu dan janji-Nya. Contohlah akhlak Rasulullah s.a.w yang telah menerima janji Allah yaitu ketika baginda s.a.w telah bermimpi memasuki kota Makkah. Kaum muslimin percaya bahawa mimpi Rasulullah s.a.w adalah mimpi yang benar dan mereka yakin bahwa itu adalah janji Allah kepada Rasul-Nya, yang Dia mengijinkan mereka bersama-sama memasuki kota Makkah sekalipun musyrikin Quraisy masih menguasai kota tersebut. Kaum muslimin berangkat dari Madinah ke Makkah. Rombongan mereka dihadang sebelum sampai di Makkah. Kaum musyrikin menghalang-halangi kaum muslimin memasuki Makkah. Buntut dari peristiwa itu ditandatanganinya Perjanjian Hudaibiah. Rasulullah s.a.w setuju agar kaum muslimin tidak memasuki Makkah pada tahun itu. Sayidina Umar al-Khattab r.a yakin akan mimpi Rasulullah s.a.w. dan beliau juga percaya bahwa mimpi Rasulullah s.a.w itu adalah janji Allah yang mengijinkan mereka memasuki kota Makkah. Beliau r.a juga yakin bahwa janji Allah adalah sesuatu yang pasti kebenarannya maka ia tetap tegas akan memasuki Makkah walaupun dengan cara berperang. Dan ia yakin itu adalah tindakan yang benar. Beliau r.a menganjurkan agar berperang supaya kebenaran mimpi Rasulullah s.a.w dan kebenaran janji Allah menjadi kenyataan. Iman Sayyidina Umar r.a yang sangat mendalam membuatnya mau maju terus menurut petunjuk yang sampai kepada beliau r.a. tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri.

Lain halnya Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq dengan kecemerlangan Nur Sirnya beliau bersikap menyetujui tindakan Rasulullah s.a.w menandatangani dan mencap Perjanjian Hudaibiah. Melalui Nur Sirnya, Sayyidina Abu Bakar r.a dapat menyaksikan apa yang terlindung dari pandangan mata hati Umar r.a.

Kenyataannya, perjanjian tersebut banyak memberi manfaat kepada kaum muslimin. Kebijaksanaan Rasulullah s.a.w menandatangani Perjanjian Hudaibiah bersesuaian dengan kebenaran pandangan mata hati Abu Bakar r.a melalui pancaran Nur Sirnya. Sesuai dengan Perjanjian Hudaibiah, pada tahun berikutnya kaum muslimin dapat memasuki kota suci Makkah secara aman. Benarlah apa yang dimimpikan oleh Rasulullah s.a.w dan benarlah janji Allah. Rasulullah s.a.w menerima janji Allah sebagai satu karunia yang wajib diyakini dengan cara bertawakal kepada Allah dalam pelaksanaannya. Bila terjadi sesuatu yang pada lahirnya menghalang pelaksanaan janji Allah itu, Rasulullah s.a.w tidak menagih Allah dengan janji tersebut, sebaliknya baginda s.a.w mengembalikannya kepada Allah., dan sebagai balasan terhadap kerelaan menerima takdir Allah maka Allah karuniakan pula Perjanjian Hudaibiah yang banyak membantu perkembangan dakwah Islam. Allah sekali-kali tidak melupakan janji-Nya mengijinkan kaum muslimin menziarahi tanah suci Makkah, dengan rahmat-Nya kaum muslimin memasuki kota Makkah pada tahun berikutnya dalam suasana aman. Jadi, apabila janji Allah dikembalikan kepada Allah maka Allahlah yang melaksanakannya.

Peristiwa di atas memberi pengajaran kepada kita tentang Sir Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq r.a, yaitu Rahsia pada hati nuraninya, firasat yang menghubungkannya dengan Allah. Sir yang menguasainya itulah yang menjadikannya bergelar as-Shiddiq (Seorang yang senantiasa membenarkan). Beliau r.a dapat membenarkan kebenaran Nabi Muhammad s.a.w tanpa pertimbangan dan bantahan. Beliau r.a membenarkan peristiwa Isra Mi’raj ketika kebanyakan kaum Quraisy mendustakannya. Abu Bakar r.a bukanlah seorang dungu yang bertaklid secara membabi buta. Namun, apa yang sampai kepadanya diakui oleh Sirnya yang memperoleh pengesahan dari Allah. Cahaya kebenaran yang keluar dari Rasulullah s.a.w selalu dibenarkan cahaya kebenaran yang keluar dari Sir Abu Bakar r.a, sebab itulah Abu Bakar r.a senantiasa membenarkan Rasulullah saw tanpa syarat dan usulan. Bukti apa lagi yang diperlukan apabila Sir telah mendapat jawaban dari Allah s.w.t. Sir atau Rahsia Allah itulah yang tidak berpisah dari Allah, sentiasa menghadap kepada Allah dan mendengar Kalam Allah. Sir itulah yang mengenal Allah

Kemurnian Sir Abu Bakar as-Shiddiq r.a terbukti lagi ketika wafatanya Rasulullah s.a.w. Sayyidina Umar r.a yang dikuasai oleh iman yang sangat kuat dan dalam yang melahirkan cinta yang mengharu biru terhadap jungjungannya, Rasulullah s.a.w, Kekasih Allah, beliau r.a manghunus pedang siap memancung kepala siapa saja yang berani mengatakan Rasulullah s.a.w sudah wafat. Namun, Sayyidina Abu Bakar r.a, yang kecintaannya terhadap Rasulullah s.a.w sama-sama mendalam mampu mengatakan, “ Barang siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad sudah wafat, tetapi siapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah Maha Hidup tidak akan wafat selama-lamanya!”

Begitulah murninya cahaya atau nur yang diterima oleh Sayyidina Abu Bakar r.a di dalam hatinya yang dipancarkan oleh Sir. Tidak salah jika dikatakan sekiranya mau memahami hakikat Sir maka pahamilah diri Sayyidina Abu Bakar as- Shiddiq r.a. Mengenali beliau r.a membuat seseorang mengenali tanda-tanda Sir.

Kalam Hikmat ketujuh ini memberi panduan untuk memahami hakikat Sir. Tanda seseorang tidak mendapat sinar Nur Sir ialah dia meragukan janji-janji Allah disebabkan dia membuat definisi dan memaknai maksud janji Allah menurut seleranya sendiri. Bagaimana kedudukan kita terhadap janji Allah, begitulah keadaan hati kita berhubungan dengan Rahasia Allah atau Sirrullah.

8. JALAN MEMPEROLEH MA’RIFAT

APABILA ALLAH MEMBUKAKAN BAGIMU JALAN UNTUK MA’RIFAT, MAKA JANGANLAH ENGKAU HIRAUKAN TENTANG AMAL-AMALMU YANG MASIH SEDIKIT KARENA ALLAH TIDAK MEMBUKA JALAN TADI MELAINKAN DIA BERKEHENDAK MEMPERKENALKAN DIRI-NYA KEPADAMU

Kalimat-kalimat Hikmah yang telah diuraikan mengajak kita merenung secara mendalam tentang pengertian amal, Qada dan Qadar, tadbir dan ikhtiar, doa dan janji Allah, yang semuanya itu mendidik rohani kita agar melihat betapa kecilnya apa yang datang daripada hamba dan betapa besarnya apa-apa yang dikaruniakan oleh Allah. Rohani yang terdidik begini akan membentuk sikap beramal tanpa melihat kepada amalan itu, sebaliknya melihat amalan itu sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri. Orang yang terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah tetapi membuka hati nuraninya untuk menerima taufik dan hidayah dari Allah.

Orang yang hatinya suci bersih akan menerima pancaran Nur Sir dan mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Suci dan Maha Tinggi tidak mungkin ditemui dan dikenali kecuali jika Dia mau ditemui dan dikenali. Tidak ada ilmu dan amal yang mampu menyampaikan seseorang kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah. Allah hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan ‘diri-Nya’.

Penemuan hakikat bahwa tidak ada jalan yang terhulur menuju gerbang ma’rifat merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu tidak mampu pergi lebih jauh dari itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa tidak ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah maka seseorang itu tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apalagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sampai di sini seseorang itu tidak ada pilihan lagi melainkan menyerah sepenuhnya kepada Allah.

Ada orang yang mengetuk pintu gerbang ma’rifat dengan doanya. Jika pintu itu tidak terbuka maka semangatnya akan menurun hingga bisa jadi malah putus asa. Ada pula orang yang berpegang dengan janji Allah bahwa Dia akan membuka jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berjuang pada jalan-Nya. Kuatlah dia beramal agar dia lebih layak untuk menerima karunia Allah sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk pintu gerbang ma’rifat. Bila pintu tersebut tidak terbuka juga maka dia akan merasa ragu-ragu.

Dalam perjalanan mencari ma’rifat seseorang tidak terlepas dari kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa jika dia masih bersandar kepada sesuatu selain Allah. Seorang hamba tidak ada pilihan kecuali berserah diri kepada Allah, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak dalam menentukan siapakah antara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali Diri-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah. Aslim atau menyerah diri kepada Allah adalah perhentian di hadapan pintu gerbang ma’rifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian aslim ini yang mempunyai kemungkinan menerima karunia ma’rifat. Allah mengantarkan hamba-Nya ke situasi ini adalah tanda bahwa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemui-Nya. Aslim adalah maqom muqorobah (berdekatan) dengan Allah. Barang siapa yang sampai kepada maqom ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal yang dimilikinya. Sekiranya Allah menghendaki dari maqom inilah hamba diangkat ke Hadirat-Nya.

Jalan menuju perhentian aslim yaitu pintu gerbang ma’rifat secara umum terbagi kepada dua. Jalan pertama dinamakan jalan orang yang mencari dan jalan kedua dinamakan jalan orang yang dicari. Orang yang mencari akan melalui jalan di mana dia kuat melakukan mujahadah (sungguh-sungguh), berjuang melawan godaan hawa nafsu, kuat melakukan amal ibadah dan gemar menuntut ilmu. Lahirnya sibuk melaksanakan tuntutan syariat dan batinnya memperteguh iman. Dipelajarinya tarekat tasawuf, mengenal sifat-sifat yang tercela dan berusaha mengikiskannya dari dirinya. Kemudian diisikan dengan sifat-sifat yang terpuji. Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatih dirinya agar nafsunya menjadi bertambah suci hingga meningkat ke tahap yang diridhai Allah. Inilah orang yang diceritakan Allah dengan firman-Nya:

Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh (mujahadah) karena memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keridhaan); dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah senantiasa beserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya. ( Ayat 69 : Surah al-‘Ankabut )

Wahai manusia, Sesungguhnya kalian sentiasa bersusah-payah- (menjalankan keadaan hidupmu) dengan segenap upayamu hingga kembali kepada Tuhanmu, kemudian kalian akan temukan balasan apa yang telah kalian usahakan itu (tercatat semuanya). (Ayat 6 : Surah al-Insyiqaaq )

Orang yang bermujahadah pada jalan Allah dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyak ibadah, berzikir, menyucikan hati, maka Allah menunjukkan jalan dengan memberikan taufik dan hidayah sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah tanpa ragu-ragu dan ridha dengan apa-apa yang telah Allah tentukan. Dia dibawa menghampiri pintu gerbang ma’rifat dan hanya Allah saja yang menentukan apakah orang tadi akan dibawa ke Hadrat-Nya atau tidak, dikaruniai ma’rifat atau tidak.

Golongan orang yang dicari menempuh jalan yang berbeda dari golongan orang yang mencari. Orang yang dicari tidak cenderung untuk menuntut ilmu atau beramal dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan bermujahadah. Namun, Allah telah menentukan satu kedudukan kerohanian kepadanya, maka takdir akan mengantarnya sampai pada kedudukan yang telah ditentukan itu. Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan suatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa perubahan jalan hidupnya. Perubahan sikap dan kelakuan berlaku secara mendadak. Kejadian yang menimpanya selalu berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang diantara dirinya dengan Allah. Jika dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkan dia tidak mampu mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah mencabut kerajaan itu dari dirinya. Terlepaslah dia dari beban tersebut dan pada masa yang sama timbul suatu keinsafan di dalam hatinya yang membuatnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Sekiranya dia seorang hartawan, takdir akan menghapus hartanya sehingga dia tidak ada tempat bergantung kecuali Allah sendiri. Seandainya dia berkedudukan tinggi, takdir mencabut kedudukan tersebut dan ikut tercabut pula kemuliaan yang dimilikinya tergantikan dengan kehinaan sehingga dia tidak punya tempat yang bisa dituju lagi kecuali kepada Allah. Takdir menghalangi orang ini untuk menerima bantuan dari makhluk sehingga mereka berputus asa terhadap makhluk. Lalu mereka kembali dengan penuh kerendahan hati kepada Allah dan timbulah dalam hati mereka suasana penyerahan atau aslim yang sebenar-benarnya terhadap Allah. Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa dari makhluk menjadikan mereka ridha dengan apa saja ketentuan Allah. Suasana begini membuat mereka sampai dengan cepat ke depan pintu gerbang ma’rifat walaupun ilmu dan amal mereka masih sedikit. Orang yang berjalan dengan kendaraan bala bencana mampu sampai ke hadapan gerbang tersebut dalam masa dua bulan sedangkan orang yang mencari mungkin bisa sampai dalam masa dua tahun.

Abu Hurairah r.a menceritakan, beliau r.a mendengar Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:


Allah berfirman: “ Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh kepada orang-orang yang mengunjunginya maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari yang dahulu, dan dia dipersilahkan memperbaharui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua”.

Amal kebaikan dan ilmunya tidak mampu membawanya kepada kedudukan kerohanian yang telah ditentukan Allah, lalu Allah dengan rahmat-Nya mengenakan ujian bala bencana yang menariknya dengan cepat kepada kedudukan muqorobin (orang-orang yang dekat dengan Allah). Oleh karena itu, tidak perlu dipersoalkan tentang amalan dan ilmu seandainya keadaan demikian menimpa seorang hamba-Nya.

9. AHWAL MENENTUKAN AMAL

BERBAGAI JENIS AMAL ADALAH KARENA BERBAGAI AHWAL (HAL-HAL)

Kalimat Hikmah ke 9 di atas ringkas tetapi padat. Hikmah ini merupakan lanjutan dari Kalimat Hikmah ke 8 yang telah diuraikan sebelumnya. Hikmah yang ke delapan menjelaskan sampai perhentian di hadapan pintu gerbang dan belum menyentuh ma’rifat. Hikmah ke sembilan ini memberi gambaran tentang ma’rifat tetapi tidak dibahas tuntas apa itu ma’rifat dan tidak juga diuraikan secara terus terang, sebaliknya yang dibahas adalah mengenai ahwal. Ahwal adalah bentuk jamak bagi hal. Hikmah ini memberi arti bahwa hal membentuk keadaan amal. Amal adalah perbuatan atau kelakuan lahiriah dan hal adalah suasana atau kelakuan hati. Amal berkaitan dengan lahiriah sedangkan hal berkaitan dengan batiniah. Oleh karena hati menguasai seluruh anggota badan maka kelakuan hati yaitu hal akan menentukan bentuk amal atau perbuatan lahiriah.

Dalam pandangan tasawuf, hal diartikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan ma’rifat. Hal merupakan zauk atau cita rasa yang berkaitan dengan keTuhanan yang melahirkan ma’rifatullah (pengenalan tentang Allah). Oleh sebab itu, tanpa hal tidak ada hakikat dan tidak diperoleh ma’rifat. Ahli ilmu membangun ma’rifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasawuf berma’rifat melalui pengalaman, melalui zauk (cita rasa) tentang keberadaan Allah.

Sebelum memperoleh pengalaman hakikat, ahli kerohanian terlebih dahulu memperoleh kasyaf. Kasyaf adalah terbukanya rahasia keghaiban kepadanya. Kasyaf yang paling penting adalah mengenali tipu daya syaitan yang bersembunyi dalam berbagai bentuk dan suasana dunia ini. Kasyaf yang menerima hakikat sesuatu - walau apapun juga bentuk rupa yang ditemukan - penting bagi pengembara kerohanian. Rasulullah s.a.w sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibril a.s dalam rupanya yang asli dua kali saja, walaupun setiap kali Jibril a.s menemui Rasulullah s.a.w dengan rupa yang berbeda-beda, Rasulullah s.a.w tetap mengenalinya sebagai Jibril a.s. Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang itu tidak tertipu dengan tipu daya syaitan yang menjelma dalam berbagai bentuk rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti berbentuk seseorang yang kelihatan alim, wara’ dan shalih.

Bila seseorang ahli kerohanian memperoleh kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan hal atau zauk atau cita rasa, yakni pengalaman kerohanian tentang keberadaan Allah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hal atau zauk atau cita rasa tidak mungkin diperoleh dengan beramal dan menuntut ilmu. Sebelumnya pernah dinyatakan bahwa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang ma’rifat. Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai menghampiri pintu gerbangnya. Apabila sudah sampai di situ seseorang hanya tinggal menanti karunia Allah, semata-mata karunia Allah yang membawa ma’rifat kepada hamba-hamba-Nya. Karunia Allah yang mengandung ma’rifat itu dinamakan hal. Allah memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran itu hati akan mendapat sesuatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati. Misalnya, pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal bahwa Allah Maha Perkasa. Apa yang terbentuk di dalam hati itu tidak dapat digambarkan tetapi pengaruhnya atau dampaknya dapat dilihat dari tubuhnya yang menggigil hingga dia jatuh pingsan. Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau zauk atau cita rasa yang dapat merasakan keperkasaan Allah dan pengalaman inilah yang dinamakan hakikat, yakni hati mengalami hakikat keperkasaan Allah. Pengalaman hati tersebut membuatnya berpengetahuan tentang maksud Allah Maha Perkasa.

Jadi, pengalaman yang diperoleh dari zauk atau cita rasa tentang hakikat melahirkan pengetahuan tentang Allah. Pengetahuan itulah yang dinamakan ma’rifat. Orang yang mengalaminya dikatakan berma’rifat terhadap keperkasaan Allah. Oleh sebab itu, untuk mencapai ma’rifat dalam terminologi tasawuf, seseorang haruslah mengalami hakikat merasakan sendiri zauk atau cita rasa itu. Inilah jenis ma’rifat yang tertinggi. Ma’rifat tanpa pengalaman hati adalah ma’rifat secara ilmu. Ma’rifat secara ilmu bisa didapat dengan belajar, sementara secara zauk bisa didapat melalui latihan kerohanian. Ahli tasawuf tidak berhenti hanya sampai tingkat ma’rifat secara ilmu, mereka bahkan mempersiapkan hati mereka agar mampu menerima kedatangan ma’rifat secara zauk atau ma’rifat secara cita rasa.

Ada orang yang memperoleh hal sekali saja dan dikuasai oleh hal dalam tempo tertentu dan ada juga yang berkekalan di dalam hal itu. Hal yang berterusan atau berkekalan dinamakan wisal yaitu penyerapan hal secara berterusan, kekal atau baqa. Orang yang mencapai wisal akan terus hidup dengan cara hal yang mengenainya. Hal-hal (ahwal) dan wisal bisa dibagi dalam lima jenis:

1. Abid


Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau zauk atau cita rasa yang membuat dia sangat-sangat merasakan bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mempunyai daya dan upaya untuk melakukan sesuatu. Kekuatan, upaya, bakat-bakat dan apa saja yang ada pada dirinya hanyalah daya dan upaya dari Allah. Semuanya itu hanyalah karunia-Nya semata-mata. Allah sebagai Pemilik yang sebenarnya, apabila Dia memberi, maka Dia berhak pula mengambil kembali pada masa-masa yang Dia kehendaki. Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah sehingga sekiranya dia melepaskan sandaran itu, dia akan jatuh, tidak berdaya, tidak bisa bergerak, karena dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa-apa yang datang dari Allah. Hal atau suasana yang menguasai hati abid itu akan melahirkan amal atau kelakuan sangat kuat dalam beribadah, tidak memperdulikan dunia dan isinya, tidak ikut campur dalam urusan orang lain, sangat takut berjauhan dari Allah dan gemar menyendiri. Dia merasakan apa saja yang selain Allah akan menjauhkan dirinya dari Allah.

2. Asyikin


Asyikin ialah orang yang sangat terpesona dengan sifat Allah yang Maha Indah. Apa saja yang dilihatnya menjadi cermin yang dia mampu merasakan (zauk) Keindahan serta Keelokan Allah di dalamnya. Amal atau kelakuan asyikin ialah gemar merenung di alam senantiasa memuji Keindahan Allah pada apa yang disaksikannya. Dia bisa duduk menikmati keindahan alam berjam-jam tanpa merasa jemu. Kilauan ombak dan rintikan hujan memukau pandangan hatinya. Semua yang terlihat adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah. Orang yang menjadi asyikin mempunyai alam tersendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah.

3. Muttakhaliq


Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan bertukar sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana Qurbi Faraidh atau Qurbi Nawafil. Dalam Qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang mau terjadi pada kelakuan dan perbuatannya. Dia merasakan menjadi orang yang berpisah dari dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan sesuatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengawal atau mempengaruhinya. Hal Qurbi Faraidh adalah dia merasakan bahwa Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.

Dalam suasana Qurbi Nawafil muttakhaliq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah yang menguasai bakat dan upaya pada seluruh anggotanya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri. Hal Qurbi Nawafil ialah berbuat dengan izin Allah karena Allah mengaruniakan kepadanya kemampuan untuk berbuat sesuatu. Contoh Qurbi Nawafil adalah tindakan Nabi Isa a.s yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah, juga mu’jizat beliau a.s menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. Nabi Isa a.s melihat sifat-sifat Allah yang diizinkan menjadi bakat dan daya upaya beliau a.s, sebab itu beliau a.s tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah tentunya.

4. Muwahhid


Muwahhid yaitu fana dalam zat, zatnya lenyap dan Zat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid ialah dirinya menjadi tidak dirasakan keberadaannya, yang ia rasakan adalah keberadaan Allah. Orang ini telah putus hubungannya dengan kesadaran basyariah dan segala bentuk yang ada. Kelakuan atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa. Dia telah fana dari ‘aku’ dirinya dan ia dikuasai oleh hakikat keberadaan Allah. Apabila dia tidak dikuasai oleh hal, kesadarannya kembali dan dia menjadi ahli syariat yang taat.

5. Mutahaqqiq


Mutahaqqiq ialah orang yang setelah fana dalam zat turun kembali kepada kesadaran sifat, seperti yang terjadi pada nabi-nabi dan wali-wali Allah demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diurus. Dalam kesadaran zat seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Allah, dan tidak peduli tentang urusan rumah tangga ataupun kehancuran dunia seluruhnya. Saat itu orang yang demikian tidak bisa dijadikan pemimpin. Dia mesti turun kepada kesadaran sifat barulah dia bisa memimpin orang lain.

Ahwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeda-beda, yang dengannya terbentuk perilaku amal yang berbeda-beda pula. Ahwal mesti difahami dengan sebenar-benarnya oleh orang yang memasuki latihan tarekat kerohanian, supaya dia mengetahui dalam amal yang bagaimana dia mendapat kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan shalat sunnah, zikir atau puasa. Dia mesti berpegang sungguh-sungguh kepada amal yang dicetuskan oleh hal tadi, agar dia mampu dan selamat sampai ke puncak.

10. IKHLAS ADALAH RUHNYA IBADAH

AMALAN LAHIR ADALAH KERANGKA SEDANGKAN RUHNYA ADALAH IKHLAS YANG

TERSEMBUNYI DALAM AMALAN ITU

Amal lahiriah digambarkan sebagai kerangka tubuh dan ikhlas digambarkan sebagai nyawa yang menghidupkan tubuh itu. Sekiranya kita kurang mendapat dampak yang baik dari latihan kerohanian hendaklah kita merenung dengan mendalam apakah amal tubuh kita bernyawa atau tidak.

Kalimat Hikmah ke 10 ini menghubungkan amal dengan ikhlas. Kalimat Hikmah ke 9 yang lalu telah menghubungkan amal dengan hal. Kedua Kalimat Hikmah ini membangun jembatan yang menghubungkan hal dengan ikhlas, kedua-duanya ada kaitan dengan hati, atau lebih tepat jika dikatakan ikhlas sebagai suasana hati dan hal sebagai Nur Ilahi yang menyinari hati yang ikhlas. Ikhlas menjadi persediaan yang penting bagi hati menyambut kedatangan Nur Ilahi. Apabila Allah berkehendak memperkenalkan Diri-Nya kepada hamba-Nya maka dipancarkan Nur-Nya kepada hati hamba tersebut. Nur yang dipancar kepada hati ini dinamakan Nur Sir atau Nur Rahsia Allah. Hati yang diterangi oleh nur akan merasai hal keTuhanan atau mendapat tanda-tanda tentang Allah. Setelah mendapat pertanda dari Allah maka hati pun mengenal Allah. Hati yang memiliki ciri atau sifat begini dikatakan hati yang mempunyai ikhlas tingkat tertinggi. Allah berfirman :

Dan sebenarnya perempuan itu berkeinginan sangat kepadanya, dan Yusuf ( timbu pula ) keinginannya kepada perempuan itu, kalaulah ia tidak menyadari keberadaan Tuhannya (tentang hinanya berbuat zina). Maka demikianlah (takdir Kami), untuk menjauhkan dari Yusuf perkara-perkara yang tidak baik dan perbuatan yang hina, karena sesungguhnya ia dari hamba-hamba Kami yang dibersihkan dari segala dosa. ( Ayat 24 : Surah Yusuf )

Nabi Yusuf a.s adalah hamba Allah yang ikhlas. Hamba yang ikhlas berada dalam pemeliharaan Allah. Apabila dia dirangsang untuk melakukan kejahatan dan kekotoran, Nur Rahasia Allah akan memancar di dalam hatinya sehingga dia menyaksikan dengan jelas akan tanda-tanda Allah dan sekaligus meleburkan rangsangan jahat tadi. Inilah tingkat ikhlas yang tertinggi yang dimiliki oleh orang arif dan yang dekat dengan Allah. Mata hatinya sentiasa memandang kepada Allah, tidak pada dirinya dan perbuatannya. Orang yang berada di dalam maqom ikhlas yang tertinggi ini sentiasa dalam keridhaan Allah baik pada saat beramal ataupun pada saat diam. Allah sendiri yang memeliharanya. Allah mengajarkan agar hamba-Nya menghubungkan diri dengan-Nya dalam keadaan ikhlas.

Dia Yang Tetap Hidup; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka beribadahlah kepada-Nya dengan mengikhlaskan amalanmu kepada-Nya semata-mata. Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mengurus semesta alam. ( Ayat 65 : Surah al-Mu’min )

Allah Yang Maha Hidup. Dia yang memiliki segala kehidupan. Dia jualah Tuhan sekalian alam. Apa saja yang ada dalam alam ini adalah ciptaan-Nya. Apa saja yang hidup adalah dihidupkan oleh-Nya. Jalan dari Allah adalah nikmat dan karunia, sementara jalan dari hamba kepada-Nya adalah ikhlas. Hamba dituntut supaya mengikhlaskan segala aspek kehidupan untuk-Nya. Dalam melaksanakan tuntutan mengikhlaskan kehidupan untuk Allah ini hamba tidak boleh berasa takut dan gentar kepada sesama makhluk.

Oleh itu maka sembahlah kamu akan Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada-Nya (dan menjauhi bawaan syirik), sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai (amalan yang demikian). ( Ayat 14 : Surah al-Mu’min )

Allah telah menetapkan etika kehidupan yang perlu dijunjung, dihayati, diamalkan, disebarkan dan diperjuangkan oleh kaum muslimin dengan sepenuh jiwa raga dalam keadaan ikhlas karena Allah, meskipun ada orang-orang yang tidak suka, orang-orang yang menghina, orang-orang yang membangkang dan mengadakan perlawanan.

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh berlaku adil (pada segala perkara), dan (menyuruh supaya kamu) hadapkan muka (dan hati) kamu (kepada Allah) dengan betul pada tiap-tiap kali mengerjakan shalat, dan beribadahlah dengan mengikhlaskan amal agama kepada-Nya semata-mata; (kareana) sebagaimana Ia telah menjadikan kamu pada mulanya, (demikian pula) kamu akan kembali (kepada-Nya)”. ( Ayat 29 : Surah al-A’raaf )

Sekalipun sukar mencapai peringkat ikhlas yang tertinggi tetapi harus diusahakan agar diperoleh keadaan hati yang ikhlas dalam segala perbuatan baik yang lahir maupun yang batin. Orang yang telah tumbuh di dalam hatinya rasa kasih Allah akan berusaha membentuk hati yang ikhlas. Mata hatinya melihat bahawa Allah jualah Tuhan Yang Maha Agung dan dirinya hanyalah hamba yang hina. Hamba berkewajiban tunduk, patuh dan taat kepada Tuhannya. Orang yang di dalam maqom ini beramal karena Allah, karena Allah yang memerintahkan supaya beramal, karena Allah berhak ditaati, karena perintah Allah wajib dilaksanakan, semuanya karena Allah tidak karena sesuatu yang lain. Golongan ini sudah dapat menawan hawa nafsu yang rendah dan pesona dunia tetapi dia masih melihat dirinya di samping Allah. Dia masih melihat dirinya yang melakukan amal. Dia gembira karena menjadi hamba Allah yang beramal karena Allah. Sifat kemanusiaan biasa masih mempengaruhi hatinya.

Setelah rohaninya meningkat, hatinya dikuasai sepenuhnya oleh kehendak Allah, menjadi orang arif yang tidak lagi melihat kepada dirinya dan amalnya tetapi melihat Allah, Sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Apa saja yang ada padanya adalah anugerah Allah. Sabar, ridha, tawakal dan ikhlas yang ada padanya semuanya merupakan anugerah Allah, bukan amal yang lahir dari kekuatan dirinya.

Tingkat ikhlas yang paling rendah ialah apabila amal perbuatan bersih daripada riya’ (pamer) yang jelas dan yang samar tetapi masih terikat dengan keinginan kepada pahala yang dijanjikan Allah. Ikhlas seperti ini dimiliki oleh orang yang masih kuat bersandar kepada amal, yaitu hamba yang mentaati Tuannya karena mengharapkan upah daripada Tuannya itu.

Di bawah tingkatan ini tidak dinamakan ikhlas lagi. Tanpa ikhlas seseorang beramal karena sesuatu tipu daya kedunia, mau dipuji, mau menutupi kejahatannya agar orang percaya kepadanya dan bermacam-macam lagi tipu daya yang rendah. Orang dari golongan ini walaupun banyak melakukan amalan tetapi amalan mereka adalah laksana tubuh yang tidak bernyawa, tidak dapat menolong tuannya dan di hadapan Allah nanti akan menjadi debu yang tidak menolong orang yang melakukannya. Setiap orang yang beriman kepada Allah mesti mengusahakan ikhlas pada amalannya sebab tanpa ikhlas syiriklah yang menyertai amalan tersebut, sebanyak ketiadaan ikhlas itu.

(Amalkanlah perkara-perkara itu) dengan tulus ikhlas kepada Allah, serta tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. (Ayat 31 : Surah al-Hajj )

“Serta (diwajibkan kepadaku): ‘Hadapkanlah seluruh dirimu menuju (ke arah mengerjakan perintah-perintah) diin dengan betul dan ikhlas, dan janganlah engkau menjadi orang-orang musyrik’”. Dan janganlah engkau (wahai Muhammad) menyembah atau memuja yang lain dari Allah, yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepadamu dan tidak juga dapat mendatangkan mudharat kepadamu. Sekiranya engkau mengerjakan yang demikian, maka pada saat itu engkau menjadi bagian dari orang-orang yang berlaku zalim (terhadap diri sendiri dengan perbuatan syirik itu). ( Ayat 105 & 106 : Surah Yunus )

Daging dan darah binatang kurban itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan takwa dari kamu. (Ayat 37 : Surah al-Hajj )

Allah menyeru supaya berbuat ikhlas dan tidak berbuat syirik. Ikhlas adalah lawan dari syirik. Jika sesuatu amal itu dilakukan dengan anggapan bahwa ada makhluk yang berkuasa mendatangkan manfaat atau mudarat, maka tidak ada ikhlas pada amal tersebut. Bila tidak ada ikhlas maka syiriklah ia yaitu sesuatu atau seseorang yang kepadanya amal itu ditujukan. Orang yang beramal tanpa ikhlas itu disebut sebagai orang zalim, walaupun pada lahiriahnya dia tidak menzalimi siapapun.

Intisari ikhlas adalah melakukan sesuatu karena Allah semata-mata, tidak ada kepentingan lain. Kepentingan diri sendiri merupakan musuh ikhlas yang paling utama. Kepentingan diri lahir dari nafsu. Nafsu selalu menginginkan kemewahan, kedudukan, kemuliaan, puji-pujian dan sebagainya. Apa yang lahir dari nafsu, itulah yang sering menghalang atau merusak keikhlasan.

1 komentar: